Rabu, 12 November 2014

Sunyi, Sepi, Sendiri

Tidak ada yang lebih menyebalkan dari pada hari ini. Bad day. Itu bahasa kekiniannya. Puncaknya stres mungkin pengandaian lainnya.

Bagaimana tidak, hari ini diawali dengan bangun tidur yang tiba-tiba akibat mimpi buruk dan keringat sudah banjir dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mimpi paling brengsek! (maaf kasar, ngetiknya juga masih dengan emosi yang belum stabil). Kenapa brengsek? Karena di dalam mimpi itu seperti masih ada harapan terhadap orang yang menyebabkan hati saya hancur berkeping-keping hingga jadi butiran debu tapi orang yang bersangkutan tidak dapat mengatakan yang sejujurnya. Akibatnya saya tidak bisa sepenuhnya move on untuk orang lain karena takut ditolak kemudian kehilangan teman lagi. Gila, baru kali ini urusan hati bikin trauma. Tanggung jawab tuh harusnya.

Kemudian setelah bangun tidur sebenarnya mendapatkan berita baik karena dosen ingin memberikan revisi yang sudah saya tunggu sebulan walau saya harus ambil sendiri di rumahnya. Berhubung saya belum pernah ke rumah beliau, rasanya saya ingin ditemani. Entahlah, tidak seperti saya yang biasanya. Saya mencoba menghubungi teman-teman yang mungkin bisa menemani saya pergi, tapi hasilnya nihil. Karena tidak ingin membuang banyak waktu saya berangkat bermodal GPS dan instruksi dari teman saya. Sampai di rumah beliau (setelah jalan kaki di tengah panasnya matahari dan kaki lecet di mana-mana) ternyata tidak ada seorang pun yang dititipi revisi saya di rumah itu. Bengong. Kok bisa saya disuruh ke rumahnya tapi barang yang disuruh ambil tidak ada. Jadilah saya bertolak pergi dari rumah beliau dan mengirimkan pesan bahwa di rumahnya tidak ada yang tahu mengenai revisi saya. Untung responnya cepat, beliau meminta saya balik lagi ke rumahnya karena sudah menginstruksikan orang di rumah untuk memberikan revisi saya. Akhirnya saya mendapatkan revisi saya, tapi... Kok cuma 1 bab? Kan saya ngumpulin 3 bab. Hmm... Besok harus menemui beliau lagi deh meminta kejelasan. Sampai kosan kaki saya perih semua nyaris tidak bisa menyentuh lantai saking perihnya.

Kabar menakjubkan berikutnya adalah sudah diumumkan tenggat pengumpulan skripsi. Yeiy! Pengumpulan draft pertengahan bulan depan. Ya sudahlah pupus sudah harapan saya lulus semester ini, seminar saja belum selesai tidak mungkin bisa menyelesaikan skripsi tanpa penelitian. Yang penting semester ini harus sudah seminar! (Semakin ke bawah bahasanya semakin menyenangkan, emosi sudah mulai turun. Maaf seperti berkepribadian ganda. Saya pun bingung dengan diri saya secepat itu pergolakan emosinya.)

Semua kejadian di atas yang menyebabkan saya begitu tenggelam dalam kesedihan. Ditambah lagi tidak ada yang bisa menemani saya hanya sekadar untuk menawarkan bahu sebagai tempat untuk menangis sepuasnya. Memikirkan saya harus menambah beban orang tua dengan menambah satu semester lagi bayaran dan jumlahnya tidak sedikit membuat hari ini menjadi begitu menyedihkan. Ditambah hari ini adalah hari ayah. Saya merasa gagal menjadi anak. Tidak kunjung selesai menjadi beban orang tua.

Sunyi. Sepi. Sendiri. Menangis berulang kali. Entah apa gunanya. Entah apa yang seharusnya dilakukan. Merasa begitu hancur. Dan tidak ada seorang pun yang ada di samping saya.

Datang bulan menjadi halangan saya untuk menenangkan diri dengan bersembahyang. Hanya bisa berdoa dan berdoa agar Tuhan selalu menemani dan memberikan saya kekuatan untuk menghadapi semua ini. Terus berusaha untuk berpikiran positif tapi sulit. Setiap memikirkan Tuhan dan orang tua air mata ini terus mengalir tanpa henti.

Terlalu sunyi. Terlalu sepi. Dan selalu sendiri. Semoga masih bisa berpikiran jernih dan menjejali hati dan pikiran dengan segala sesuatu hal yang positif. Tetap percaya bahwa Tuhan selalu menemani. Tetap percaya suatu hari nanti orang tua akan bahagia dan bangga melihat saya.

Tolong aku Ya Tuhan...

Selasa, 09 September 2014

(Berasa) Diputusin Teman

"Makasi atas segalanya."

Tiga kata itu yang menyentak kehidupan saya di hari ini. Pagi menuju siang, di mana saya baru bangun kembali setelah beberapa kali terbangun, saya menatap layar telepon pintar saya dan muncullah beberapa kalimat yang saya terima di salah satu media sosial saya. Salah satunya seperti kalimat di atas.

Wah, luar biasa sekali sensasi yang saya dapatkan. Tangan saya langsung tremor, bolak-balik menelan air ludah untuk menahan rasa ingin menangis, dan panik.

Tapi setelah saya sadari sekarang, keadaan ini cukup janggal. Saya tidak memiliki kekasih. Kalimat itu dilontarkan oleh teman saya. Benar-benar teman. Bukan sahabat atau saudara.

Tidak punya pacar tapi kok serasa diputusin? Sedih ga sih? Harusnya sih sedih, tapi sepertinya karena sudah terlalu sering ditempa dengan kehidupan yang tidak selalu manis maka akhirnya saya biasa saja. Malah sekarang cenderung kesal.

Awalnya memang saya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bermaksud untuk memutus silaturahmi. Namun karena dia terlebih dahulu yang memulai dan langsung mengatakan demikian, apa boleh buat sepertinya rencana saya tidak berjalan dengan lancar. Sudah mencoba mengklarifikasi bahwa saya tidak mengharapkan apa-apa darinya tidak mempan untuk menangguhkan kata-katanya. Sepertinya dia memang tipe orang yang jika tidak suka sesuatu maka menjauhlah atau pergilah dari sisinya.

Padahal harapan saya hanya ingin menjaga jarak saja. Ya, saya tahu itu tidak mungkin, tapi tidak ada salahnya dicoba dari pada dikuasai kehendak hati dan saya malah jadi gila. Jahat sih demi kebaikan diri sendiri mengusik kehidupan orang, tapi mau bagaimana lagi. Selama saya tidak merebut hak orang lain toh tidak mengapa kan?

Namun kenyataannya malah demikian. Mau tidak mau, suka tidak suka yang bersangkutan memilih untuk benar-benar menjauh dan menyudahi hubungan (?) ini. Mau dikatakan apa lagi, sudah tidak dapat berkutik.

Sepertinya benar saya belum tepat untuk menggenapkan kehidupan Anda. Kalau hidup Anda begitu kaku seperti kanebo kering begitu akan sulit menerima saya yang seutuhnya. Atau karena ini merupakan yang pertama kali untuk Anda, sehingga Anda bingung bagaimana cara menyikapi? Jangan bingung-bingung, jalani saja yang menurut Anda benar, mungkin kalau meninggalkan teman itu benar buat Anda ya berarti saya yang harus mengalah (lagi).

Selama Anda masih sekaku ini saya berani untuk mengatakan bahwa kita memang tidak cocok. Tapi jangan lupa, waktu bermain di sini. Teguhkah Anda dengan prinsip itu? Karena tidak ada yang tahu rahasia Tuhan di kemudian hari.

Jangan menampik kenyataan jikalau nanti Anda tidak mendapatkan apa yang sudah Anda impikan. Waktu sangat memiliki andil dalam kehidupan. Jangan salahkan waktu atau pun Tuhan jika nanti Anda menyesal.

Doa saya hanya satu untuk Anda dan akan selalu menjadi doa saya untuk mendoakan Anda: semoga Anda diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Tapi ingat, mungkin yang Tuhan pikir yang terbaik bukanlah pilihanmu yang terbaik. Semua ada hikmahnya.

Salam,

Teman yang Anda putuskan (?) 


Rabu, 03 September 2014

Putus Asa? No Way!

Pernah terpikir untuk bunuh diri? Selama ini kalau melihat atau membaca berita bunuh diri saya cuma satu pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya: kok bisa?
Secara kan bunuh diri berarti melukai diri sendiri. Apa rasanya coba? Bahkan terkadang tidak sengaja teriris pisau ketika sedang memotong bawang sudah sakitnya minta ampun. Bagaimana dengan orang-orang yang sengaja menyakiti dirinya untuk mati, kok mau sih melakukan hal seperti itu?
Sekadar iseng (?) sebenarnya penasaran mengapa masih saja ada orang yang sengaja membuat dirinya mati dengan menyakiti dirinya sendiri (entah minum obat nyamuk atau karbol termasuk menyakiti diri atau tidak tapi yang pasti rasa dua cairan itu tidak seenak susu kocok) dan ingin mengetahui apa alasan orang-orang seperti itu. Tapi tenang saja, keiisengan ini tidak serius didalami kok, saya masih (cukup) normal.

Sampai suatu hari entah apa saja yang telah saya pikirkan hingga akhirnya saya merasa di titik keputusasaan, titik di mana keadaan saya merasa sudah tidak memiliki tujuan, atau bisa dibilang memungkiri bahwa saya memiliki tujuan yang harus dicapai. Penyebabnya bisa karena tujuan yang ingin dicapai tersebut bukan berasal dari dalam hati, tapi hanya sekadar ingin menyenangkan orang lain namun diri dirasa tidak sanggup untuk melakukan hal itu.

Pada saat itu terlontar dalam pikiran saya, untuk apa saya hidup? Sudah tidak memiliki tujuan lagi yang sesuai dengan kemampuan diri, sudah tidak ada yang perlu dicapai.

Alhamdulillah sekali Tuhan masih menyayangi saya. Seketika pula saat itu pertanyaan di dalam pikiran saya tergantikan dengan kalimat lainnya, oh jadi ini alasan mengapa orang rela untuk bunuh diri! Segera saya melakukan shalat, mohon ampun dan petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk menjalani kehidupan di bumiNya ini. Alhamdulillah godaan setan masih bisa saya kalahkan.

Intinya adalah jangan sampai kita merasa putus asa. Cari terus apa yang belum tercapai dan bagaimana agar bisa menyelesaikannya. Kalau tidak suka maka sesegera mungkin diselesaikan, tidak perlu sempurna karena lebih baik diselesaikan seadanya daripada tidak dikerjakan sama sekali karena tidak suka. Semakin cepat dikerjakan maka semakin cepat juga yang tidak kita sukai itu hilang dari beban kehidupan kita.

Kalau terpikir ingin bunuh diri coba berpikir ulang lagi. Memangnya jika mati saat itu juga akan langsung masuk surga? Kalau masuk neraka bagaimana, sudah siap? Amalan baik apa yang sudah dibawa dan sudah sebanyak apa yang dilakukan sehingga berani menantang Tuhan untuk menyerahkan nyawa kalian? Lalu pikirkan orang-orang yang ditinggalkan, apa mereka tidak sedih melihat jasad kalian yang mengenaskan? Atau kalau pun kalian merasa sudah tidak memiliki orang-orang yang kalian anggap kalian sayangi paling tidak berpikirlah bahwa ketika kalian bunuh diri akan menyusahkan orang-orang sekitar untuk merapikan jasad kalian. Kalau saya sih ketika mati tidak ingin menyusahkan orang lain dan siap dengan amalan baik yang in sya Allah cukup untuk mengantarkan saya ke surga (aamiin yaa Rabb).

Jadi, jangan pernah sampai merasa putus asa. Jangan berpikir untuk bunuh diri. Pikirkan kembali hal lain yang dapat dilakukan dengan senang hati. Misalnya dengan melakukan hal yang sederhana seperti memberi makan para anak jalanan, memberi santunan kepada yayasan atau panti, atau hal sederhana lainnya. Membuat orang lain bahagia itu akan memberikaan kebahagiaan, kelegaan, dan kepuasan hati tersendiri pada diri kita.

Maka, berpikirlah positif. Masih banyak hal di dunia ini yang bisa dilakukan untuk kebaikan diri kita, mau pun orang lain :)
 

Selasa, 02 September 2014

Curahan Hati untuk Tuhan

Oh Tuhan, lagi-lagi kau membubuhi kehidupanku dengan tanda tanya. Kemarin untuk pertama kalinya ia menghubungi duluan. Walaupun tujuan dari menghubungiku adalah tantangan yang ku berikan agar ia meminta langsung sesuatu dimana hanya aku yang menyimpannya dnegan harapan tantangan tersebut tidak ia penuhi. Dan timbullah namanya di layar ponselku tadi malam.

Hal pertama yang aku lakukan hanya menghela nafas panjang. Tuhan, mengapa hal ini harus terjadi? Mengapa hanya dengan melihat namanya muncul membuat perasaankup begitu gamang? Mengapa Tuhan? Mengapa hal ini harus terjadi? Mengapa hal ini harus terjadi secara berulang? Apa sebenarnya rencana yang Kau sembunyikan dariku? Belajar sabar dan ikhlas? Atau aku harus menantinya sebagai ujian dariMu?

Ya, aku tahu seharusnya ini bukan prioritas utama yang harus aku pikirkan. Tapi bagaimana lagi, aku benar-benar membutuhkan teman dekat. Teman yang bisa aku jadikan tempat berbagi apa pun. Bukan teman yang... Ah sudahlah, membahas teman yang sudah ada dan aku anggap mereka tidak pernah mengerti keadaanku seperti apa hanya akan Kau tanggapi (walaupun secara tidak langsung) dengan menyuruhku untuk sabar dan memilah teman saja, tidak mempermasalahkan orang yang dianggap tidak cocok menjadi teman. Namanya juga teman, pasti ada yang cocok atau tidak.

Mungkin saat ini yang terbayang olehku Kau akan menjawab aku harus sabar. Mungkin hal ini terjadi lagi karena aku kurang sabar. Baiklah aku akan sabar. Tapi sampai kapan Tuhan? Pasti Kau akan menjawab sabar tidak ada batasnya. Kalau Kau sudah membuatku berpikir demikian aku hanya bisa diam dan pasrah.

RencanaMu selalu penuh misteri, Tuhan. Aku selalu menganggap Kau sangat hebat. Kau memang Maha Kuasa. Aku sebagai manusia saja selalu mengeluh padaMu setiap ada suatu hal yang tidak berkenan di hati. Sedangkan Kau selalu menemani kami semua kapan pun dan dimana pun. 

Terima kasih Tuhan Kau masih mau menemani aku, menerima segala curahan hatiku, dan memberikanku rezeki mau pun ujian yang menandakan Kau masih menyayangiku. Maafkan aku yang masih sering khilaf kepadaMu. Aku benar-benar sayang padaMu. Semoga nanti kita bertemu di surga firdausMu yang sangat indah menurut Al-Qur'an.

Aku merindukanMu :)

Kamis, 17 Juli 2014

Cinta Dalam Diam

Kala itu, ia membuka jendelanya, jendela besar yang menghubungkan balkon dengan kamarnya. Dia berdiri di pinggir pagar balkon. Melamun. Matanya sembab. Ku rasa dia menghabiskan malam dengan tangis. Pertengkaran yang terdengar sampai ke kamarku semalam mungkin penyebabnya. Apa yang dipikirkan lelaki brengsek itu sampai tega membuat seorang bidadari menangis hingga matanya bengkak seperti bekas sengatan tawon? Entahlah, tapi sepertinya aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Aku turut membuka jendela kamarku yang tepat berada di sebelahnya. "Pagi," sapaku sambil memegang secangkir kopi dengan asap yang mengepul. Dia menoleh dengan lembut dan membalas sapaku dengan senyumnya. Terlihat lemah dan berusaha menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa.

"Mau kopi?" basa-basi kembali aku keluarkan. Kau menggeleng dengan senyummu yang masih menempel di bibir. "Atau cokelat?" tidak habis usahaku untuk terus dapat bercengkerama denganmu. Kau kembali menggeleng, "Tidak perlu repot, Riza." Sekarang giliran aku yang menggeleng, "Tidak repot, toh hanya menuangkan air hangat dan satu bungkus cokelat kemasan ke dalam cangkir. Saya buatkan ya," tanpa menunggu jawabanmu, aku masuk kembali ke kamar menyiapkan cokelat panas untukmu.

Tidak lama, aku kembali keluar menuju balkon. Kau masih tetap berdiri menatap jauh ke depan. Tersadar akan langkah kakiku, kau pun kembali menoleh. "Terima kasih, Riza," jawabanmu ketika aku memberikan secangkir cokelat panas yang aku balas dengan senyum.

"Riza," kau kembali memanggilku. "Maaf ya." Kau menyadari raut wajahku yang menunjukkan tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan dengan kembali melanjutkan omonganmu, "Semalam pasti kamu merasa terganggu."

Akhirnya ceritamu pun mengalir. Aku mendengarkan dalam diam. Ternyata penyebab dari keributan tadi malam adalah kekasihmu, yang brengsek itu, melihat dirimu bersama lelaki lain. Bersantap malam hanya berdua. Dan kau terlihat sangat senang. Pantas saja bila lelakimu marah besar. Apa lagi katamu ini bukan pertama kalinya kau terlihat berdua dengan temanmu itu. Mungkin kalau aku menjadi kekasihmu juga akan berbuat demikian. Tapi tidak akan sampai marah besar seperti dia. Aku tidak akan mungkin sanggup melihat wajahmu bersedih. Mungkin jika aku kekasihmu, aku akan memperingatimu dengan caraku sendiri.

"Saya salah ya, Za?" kamu menengok ke arahku meminta jawaban. Aku mengangguk perlahan. "Haha sudah jelas sekali saya yang salah. Bodoh sekali Dinda ini," tawamu terdengar miris. Mungkin tanda bahwa kau menyesalinya. "Pantas sekali wanita bodoh seperti saya diputuskan oleh lelaki sehebat dia," kau mulai menerawang jauh memikirkan lelaki yang ternyata sudah menjadi mantanmu. "Dan dengan bodohnya saya menceritakan ini padamu, Za. Maaf dan terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesah saya. Kini saya sudah merasa jauh lebih baik," senyummu lebih mengembang dari sebelumnya, tanda kau memang sudah jauh lebih baik. Aku pun tersenyum melihatnya. "Terima kasih juga cokelatnya. Nanti saya kembalikan cangkir kamu setelah saya cuci."

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan di pintu. Pintu kamarmu. Kau pun meminta izin untuk menerima tamu dan akhirnya kau masuk kembali ke dalam kamarmu lalu menutup jendelamu. Berakhir sudah bincang pagi ini dengan permata hatiku. Setidaknya aku berhasil membuat Dinda kembali tersenyum. Sudah merupakan suatu kebahagiaan untukku. Baiklah, saatnya menonton televisi.

***

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan di pintu kamarku. Aku terkesiap. Jam berapa ini? Sudah pukul 4 sore. Ternyata aku tertidur akibat bosan menonton berita politik yang isinya menurutku sudah tidak bisa dipercaya lagi mana yang benar dan mana yang salah. Beranjak aku dari kasur menuju wastafel untuk mencuci muka sebelum membuka pintu. Setelah menyeka muka dengan handuk, aku melihat terlebih dahulu siapa yang datang melalui lubang pada pintu. Oh, Adindaku yang cantik. Hmm? Tidak sendiri ternyata.

"Hai Riza, saya ganggu kamu ya?" tentu saja aku menjawab tidak. Tidak mungkin Dinda mengganggu waktuku. Waktuku selalu ada untukmu, Dinda. "Ini, saya ingin mengembalikan cangkir kamu. Terima kasih ya. Cokelatnya enak, saya suka," tentu saja Dinda, cokelat seduh di kamarku hanya aku sajikan untukmu karena aku tahu kau suka cokelat sedangkan aku tidak suka sama sekali. "Oh iya, kenalkan. Ini teman saya," kau mengenalkan aku dengan lelaki bermuka baik di sampingmu. "Saya pergi dulu ya, Za," kau pun melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi dari depan pintu kamarku. Setelah beberapa langkah kau pergi, "Riza," kau menengok, "Tunggu sebentar." Kau kembali ke hadapanku, dan lelaki yang bersamamu hanya menunggu dari tempatmu tadi memanggilku.

Kau mendekatkan wajahmu kepadaku. Dan kau berbisik di telingaku, "Terima kasih tadi pagi sudah menjadi pendengar cerita saya. Hingga akhirnya saya sadar bahwa yang saya butuhkan bukanlah lelaki hebat tetapi lelaki yang bisa membuat saya tersenyum. Yang bisa membuat saya bahagia. Terima kasih Riza."

Setelah itu kau melangkah pergi, menghampiri lelaki baik yang menurutmu bisa membuatmu bahagia, lalu meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Aku melihat senyummu terkembang dengan lebarnya menatap lelaki itu. Ya, mungkin kau akan bahagia dengannya.

Aku kembali masuk ke dalam kamarku. Meletakkan cangkir yang kau kembalikan ke atas meja kemudian mengisinya dengan bubuk kopi serta air panas. Pahit. Entah rasa kopi yang baru aku buat atau perasaanku yang melihatmu bergandengan tangan dengan lelaki lain. Aku memandang cangkir ini dan membayangkan wajahmu tadi pagi. Manis. Semanis cokelat panas yang ada dalam genggamanmu tadi pagi. Dan aku bisa menimbulkan senyum terbaikmu yang memperlihatkan wajahmu yang semakin manis.

Mungkin aku memang bisu, Dinda. Aku tidak bisa mengatakan dengan lantang bahwa aku mencintaimu dan akan membuatmu bahagia. Siapa pula yang ingin memiliki kekasih bisu. Tapi tak mengapa, Dinda. Aku akan selalu menjadi pendengar setia setiap cerita kegundahanmu hingga akhirnya kau tersenyum kembali. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan walaupun kau tidak menyadari keberadaanku yang bisa membuatmu tersenyum. Yang bisa membuatmu bahagia.

Rabu, 09 Juli 2014

Media Sosial Semakin Menggila

Sepertinya hidup di zaman sekarang kalau ketinggalan menggunakan media sosial terbaru rasanya seperti orang paling ga gaul bagi para pengguna smartphone kalangan menengah ke atas. Dulu, punya Friendster rasanya udah paling hits dengan banyak tulisan warna-warni sana-sini, widgets everywhere, dan berjubel lagu terpajang di dinding profil. Sekarang? Waduh, tinggal pilih mau unduh dan menggunakan media sosial yang mana, semuanya juga boleh asal sudah menyiapkan pikiran yang dingin dan tidak mudah sakit hati. Mengapa demikian?

Saya pernah membahas hal ini dengan salah satu teman karib saya dengan contoh kasus media sosial yang bernama Path. Path menurut saya tidak berbeda jauh dengan Twitter, kita bisa menyebarkan apa pun yang ingin dikatakan sesuka hati, lebih dari 140 karakter. Tidak hanya itu, apa pun yang kita lakukan dan di mana kita melakukannya bisa juga disebarkan dengan media ini, ditambahkan dengan foto dan video jika mau. Lalu apa masalahnya dengan hal ini?

Awalnya memang Path merupakan salah satu media sosial yang menjadi favorit saya karena hanya dapat memiliki teman sebanyak 150 orang, sehingga hanya kerabat dekat saja yang dapat menjadi teman saya. Namun, setelah ada perbaruan, Path menambah kapasitas teman menjadi 500. Jadi sekarang sudah tidak ada alasan "Maaf sudah 150 orang jadi ga bisa nambah lagi" ke orang yang mengundang kita menjadi temannya padahal bersosialisasi di dunia nyata saja sudah tidak pernah. Mungkin kalau saya orangnya tegaan mau berapa pun batas jumlah temannya tidak akan saya setujui menjadi teman, tapi sayangnya saya tidak demikian. Bisa membayangkan tiba-tiba orang yang tidak dekat dengan kita bisa kita ketahui kegiatannya apa saja dan menyebarkan foto wajahnya di media sosial kita? Kalau saya sih merasa cukup sebal melihat yang seperti itu. Kalau saya sudah cukup muak dengan tega saya langsung memutuskan hubungan, hanya di Path saja.

Kalau hal di atas sih sebenarnya bisa tidak menjadi masalah jika kita menjadi orang seperti yang saya sudah bilang juga sebelumnya, TEGA. Idealismenya tinggi sehingga selalu punya pikiran "Untuk apa berteman dengan dia toh di dunia nyata saja ketemu juga ngga." Tapi sebenarnya juga ada tega jenis lain menurut saya dan ini jika dialami dengan orang yang cukup dekat dengan kita.

Pasti pernah dong dalam suatu komunitas tidak semua orang di dalam komunitas itu bisa dekat satu sama lain? Nah terkadang kelompok-kelompok kecil di dalam komunitas itu yang suka tega. Biar gampang dicerna saya berikan langsung contoh kasusnya. Misal, dalam suatu komunitas ada kelompok-kelompok kecil yang lebih dekat satu sama lain, dan misal ada tiga kelompok kecil yaitu A, B, dan C. Si kelompok A ini terdiri dari sepuluh orang (misal lagi) dan jalan bareng ke suatu tempat. Sepuluh orang tersebut menyebarkan mereka ada di mana secara bersamaan. Nambah dong ya di Path si B dan C sepuluh baris baru yang menunjukkan tempat yang sama dan dengan isi orang-orang yang sama. Itu kalau cuma sekadar tempat, kalau ditambah foto yang sama setiap orangnya pernah berpikir tidak apa yang dirasakan si B dan C? Nyebelin. Pasti.

Ya kalau gitu tinggal hapus aja dari list teman. Hei, tidak semuanya semudah itu! Menghapus sepuluh teman karena cukup mengganggu di lini Path pasti akan menjadi buah bibir orang-orang, betul tidak? Betul saja biar cepat.

Tidak semua orang mengerti penggunaan sosial media karena memang tidak pernah diumumkan secara terang-terangan apa saja yang diperbolehkan ada di sosial media tersebut. Jadi, sebenarnya si A juga tidak salah dong kalau menyebarkan hal yang menurut mereka tidak mengganggu kehidupan mereka?

Lalu, siapa yang salah?

Di era media sosial yang semakin menggila ini akan lebih baik menurut saya setiap penggunanya untuk wawas diri. Mengapa? Karena tidak semua orang merasakan hal yang sama. Maksudnya, mungkin menurut kalian kalimat atau pun foto yang kalian sebarkan tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Tetapi ada beberapa pihak yang hatinya rapuh menganggap hal tersebut terlalu berlebihan sehingga membuat mereka sakit hati.

Ayolah coba dipkirkan perasaan orang lain sebelum menyebarluaskannya. Sudah pernah sakit hati kan karena ditinggal gebetan? Kurang lebih rasanya sama #eh

Introspeksi terlebih dahulu, apakah hal tersebut baik untuk orang lain? Apakah hal tersebut pantas dibaca orang lain? Jika memang sudah, terserah kalian ingin menyebarkan atau tidak. Karena tidak semua hal harus disebarkan, toh? Sebagian hal juga ada baiknya disimpan sendiri.

Tidak untuk menghujat, hanya sekadar berbagi :)

Kamis, 03 Juli 2014

Surat Cinta di Bulan Juli

Juli. Ini bulanmu kan? Aku ingat, tentu saja. Bagaimana bisa lupa apa pun tentangmu.

Maaf, seharusnya aku sudah harus memulai untuk menghapuskan rasa ini. Tapi setiap kali aku ingin memulai untuk melupakan entah mengapa rasanya semesta bersekongkol untuk membuat aku sakit lebih lama dengan terus menyimpan rasa yang tak akan pernah kau balas karena kau pun sudah berhasil mendapatkan incaran hatimu.

Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu atas apa yang telah kau berikan untukku. Mungkin kau berkata aku berlebihan, tapi ini memang apa yang aku rasakan, tidakkah kau merasa aku sedikit bergantung padamu?

Terlalu banyak yang sesungguhnya ingin aku katakan padamu. Namun bibirku tak mampu berucap, jemariku pun tak mampu menari di atas tuts lebih lama karena aku rasa hanya akan memberikan jarak antara aku dan kamu.

Terkadang aku masih berharap pada Tuhan, ini hanya sekadar ujian untukku apakah aku siap menunggumu dan memperbaiki diri sehingga kau sudah cukup pantas bersanding denganku. Tapi di lain sisi aku merasa aku hina, tetap bermain api di dalam hubungan orang lain. Dan aku pun tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, apakah pilihanku untuk menanti akan berbuah manis? Jika hanya sakit yang ku dapatkan, buat apa aku membuang waktu.

Dilema. Hanya itu kata yang tepat untuk mewakili perasaanku, walaupun aku tahu kamu juga tak peduli apa yang ku rasa. Sesungguhnya aku hanya ingin tahu apa pendapatmu tentangku. Itu saja cukup. Mungkin setelah aku mendapatkan jawabannya aku akan menyerah dengan perasaan ini dan pergi meninggalkan kisah yang menorehkan kita. Kita? Bahkan aku sudah kelewatan menganggap aku dan kamu sudah menjadi kita.

Terlalu banyak mungkin di dalam kisah ini. Secepatnya aku harus meninggalkan kisah ini dengan hanya menjadi aku atau kita. Sehingga tiada lagi kemungkinan yang mengusik pikiran dan menyebabkan sakit berkepanjangan.

Kau tahu, tidak semua wanita sekuat aku. Maka dari itu, jangan sampai kau membuat aku-aku yang lain yang tidak sekuat aku dan akan menghancurkan kisahmu dengannya. Hanya itu pesanku.