Rabu, 11 April 2018

The Happiest Moment in My Life!

Bikin pos ini pagi-pagi karena semangatnya masih meluap-luap dari nonton konser semalam. Sebenarnya sih saya sering nonton konser lokal dengan teman-teman saya. Namun, yang saya tonton semalam bukan konser dari band lokal, melainkan konser THE SCRIPT!

Pertama nonton konser artis internasional itu Westlife sebelum mereka bubar. Itu juga karena kebagian tiket yang murah. Semenjak itu belum pernah lagi nonton konser artis internasional. Selain tempat konsernya jauh dari rumah, terkadang harga tiket konser internasional suka ga masuk akal. Sempat mau nonton Maroon5, eh mereka batal datang ke sini. Lalu waktu itu juga mau nonton Hyukoh, tapi tidak jadi karena saya tidak terlalu kenal dengan tempat konsernya, padahal sih tidak terlalu jauh dari rumah dibandingkan setiap konser yang selalu dihelat di ICE BSD sana.

Untunglah saya tidak jadi nonton Hyukoh, walaupun masih ada sedikit penyesalan dalam hati. Karena tidak lama setelah konser Hyukoh, saya dengar kabar THE SCRIPT mau ke sini. Ya Allah… senangnya hatiku ga ketulungan!

YHA, saya sesuka itu sama THE SCRIPT. Satu-satunya band luar negeri yang saya tahu semua lagu di albumnya, ga cuma single hitsnya saja. Di saat tahun lalu orang-orang heboh cari tiket Coldplay, saya mah santai saja. “Ga ah, ga minat. Mau nunggu THE SCRIPT aja,” selalu itu jawaban saya ketika diajak nonton konser internasional apapun. Sampai akhirnya waktu itu tiba!

Penjualan tiket THE SCRIPT dibuka. Dan kalian tahu, saya ga kebagian L Teman-teman yang saya ajak nonton pun sudah tidak nafsu untuk nonton karena tidak kebagian tiket presale. Akhirnya saya menyerah juga mantengin laman jual tiket daring.

Tapi kok hati saya masih ingin sekali menontonnya. Saat itu, tiket sudah ludes. Menyesal, coba saya beli saja sendiri tidak usah bergantung dengan teman. Jadilah saya hampir setiap hari cari dengan kata kunci “jual tiket THE SCRIPT” di Twitter dan Instagram.

Lalu suatu hari salah satu sahabat, yang tahu saya sedang mencari tiket THE SCRIPT, menanyai apakah saya masih minat untuk nonton atau tidak. Saya jawab masih asal harganya bersahabat. Soalnya selama mencari, yang jual harganya tidak masuk akal semua. Tiket festival yang aslinya Cuma 850K harga normal dijual dari harga 1200-1500K. Mending beli kelas golden sekalian. Sahabat saya menemukan ada yang jual di Twitter sesuai dengan kelas yang saya mau. Dan ALHAMDULILLAH kabar dari sahabat saya pun berujung indah, orang yang ingin menjual tiketnya karena tidak jadi bisa nonton harganya sesuai dengan budget saya. Tidak berpikir lama langsung saya hubungi orangnya dan saya bayar tiketnya. YHA, akhirnya memutuskan beli tiket walau cuma nonton seorang diri, Hitung-hitung membahagiakan diri sendiri dengan mengadoi diri lebih awal lima hari sebelum dua puluh lima tahun.

Akan tetapi setelah beli tiket saya insecure sendiri. Ini beneran ga ya yang jual tiket? Ditipu ga ya? Apalagi beberapa hari sebelum konser yang jual tiket ke saya bilang dia tidak jadi nonton, dan menyerahkan kontak saya ke temannya yang lain. Insekuritas lainnya adalah dibolehin ga ya sama “nyonya” buat nonton? Secara kan kita anak rumahan yang maghrib sudah harus sampai di rumah, sedangkan konser mulai pukul 20.00 WIB. Terus nanti pulang gimana? Kesempatan untuk dapat izin “nyonya” pasti bakal lebih kecil kalau ga ada teman pulang.

Hati semakin ga tenang menuju hari H. Banyak berdoa saja yang bisa saya lakukan. Mulai dari semua anggota THE SCRIPT saya doakan sehat agar konser tidak batal, saya tidak ditipu sama yang jual tiket, dapat izin dari “nyonya”, dan tidak ada masalah ketika pulang ke rumah nantinya.

ALHAMDULILLAH semuanya dilancarkan. Ada lelaki baik hati yang bersedia menjemput saya selepas konser. "Nyonya" juga dengan mudahnya memberi izin pulang malam tidak seperti biasanya. THE SCRIPT dan kru sampai Jakarta dengan selamat. Serta tiket sudah di tangan beberapa jam sebelum konser dimulai.

Fotonya ini abis konser sih :p

Dipikir-pikir tingkat ketenangan hati saya rendah sekali ya. Akibat tidak biasa bahagia (atau takut bahagia?) jadi sebelum semua terjadi selalu dipikirkan efek buruknya duluan. Maklum, “racun” dari lingkungan yang tidak dibiasakan optimis. Eh kok jadi gini ceritanya……

Intinya saya berhasil nonton konser THE SCRIPT sendirian! Super Happy! Sepuas itu nontonnya. Bahkan dapat kejutan bisa lihat para personel depan mata dalam jarak kurang dari 100m padahal saya beli tiket yang jaraknya cukup jauh dari panggung. Terus pulang dijemput sama kesayangan. Love my (both) Danny (eh…) so much! Tidak sabar menanti mereka kembali konser di sini. Semoga bisa menonton mereka lagi :D


GANTENG BANGET SIH BANG DANNY AMPUN DAH
BANG GLENN GA KALAH TAMPAN KOK
BANG MARK JUGA KECE PARAH


See you when I see you, dear The Script!




Minggu, 11 Maret 2018

Ini Apa (Bagian Dua)

sungguh aku tidak mengerti
apa yang kau pikirkan
kau bilang jangan pergi
namun mengapa kau tetap dingin

setiap aku merindu
kau tak pernah peduli
setiap aku menjauh
kau mencegahku

lalu semua ini apa?
aku benar-benar tidak mengerti
berikanlah penjelasan
tidak hanya ketika sempat

Kamis, 08 Maret 2018

Terjebak

kata orang, awal dari perih itu pamrih
dan kata orang, paling menyakitkan itu jatuh cinta diam-diam
semakin ingin melupakan,
semakin sulit melepaskan

saat mendengarnya, kamulah yang terbayang
perih rasanya mengharapkan perhatianmu,
mengharapkan kasih sayangmu,
mengharapkan cintamu
setelah semua telah ku berikan

lama-lama aku lelah
menanggung segala perih
ingin menghapus rasa ini
namun selalu terhambat tapi dan mungkin

tapi ia berkata butuh aku
tapi ia ingin aku jangan pergi
mungkin ia sibuk
mungkin ia butuh waktu
untuk menunjukkan segala tapi

selalu aku terjebak
dalam pikiranku yang demikian
haruskah aku keluar dari pikiranku sendiri
atau haruskah ku bertahan?

Kamis, 15 Februari 2018

Di Ruang Tunggu Pengadilan

Ini kali pertama aku ke sana. Ke pengadilan. Pengadilan Agama tepatnya. Hanya mengantarkan ibu sebagai saksi keluarga. Dimintai tolong oleh tanteku untuk mendapatkan surat keterangan hak waris, kalau tidak salah demikian.

Hal pertama yang aneh di sini adalah tidak adanya tempat parkir. Bagaimana bisa? Ini adalah kantor yang pasti didatangi oleh masyarakat yang ingin menyelesaikan perkaranya, tapi bagaimana mungkin tidak ada tempat parkir? Atau ini adalah hal biasa yang tidak aku ketahui? Namun, satu hal yang pasti ini menjadi salah satu faktor yang membuatku tidak nyaman berada di tempat ini.

Setelah menemukan tempat parkir di lahan kosong yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pengadilan agama, dan setelah diusir secara sopan dari sebuah kantor yang tidak memperbolehkan ada mobil lain parkir di sana apabila tidak memiliki urusan di dalam kantor tersebut, aku dan ibu menuju kantor pengadilan. Muncul lagi hal lain yang membuatku tidak nyaman berada di sana. Jika ingin masuk harus melalui pintu belakang. Mengapa banyak sekali hal aneh yang aku temukan di sini? Atau aku yang aneh karena tidak terbiasa dengan hal seperti ini? Entahlah, aku tidak tahu mana yang benar.

Sampailah kami di ruang tunggu pengadilan yang berada di lantai dua. Ruangan yang berukuran sekitar empat kali lima yang dipenuhi kursi untuk orang-orang menunggu dipanggil ke ruang pengadilan. Ruangan ini dilengkapi dengan televisi yang menunjukkan nomor antrian, sekotak P3K yang tergantung di dinding, beberapa stop kontak disediakan untuk pengunjung yang ingin mengisi kembali daya gawai yang mereka gunakan, dan area pojok bermain anak yang dilengkapi dengan perosotan kecil dan beberapa mainan. Ruangan ini juga memiliki lima pintu yang menghubungkan ke tiga ruang pengadilan, satu ruang mediasi, dan satu ruang menyusui.

Karena aku tidak memiliki banyak peran di sini, maka aku banyak menghabiskan waktu dengan menunggu dan memperhatikan para pengunjung. Orang-orang silih berganti masuk ke dalam ruangan pengadilan sesuai dengan nomor urut mereka. Tunggu, aku rasa ini terlalu cepat. Hanya dalam beberapa menit nomor antrian terus berganti. Semudah itukah memutuskan sesuatu? Dan mengapa raut muka orang-orang di sini begitu santai, seperti hanya menunggu antrian di bank. Karena dalam kepalaku orang-orang yang berada di sini banyak yang mengurus masalah perceraian, selain masalah ahli waris dan lainnya. Namun, mengapa mereka begitu santai menunggu dan menerima keputusan? Mereka sudah tidak ada hati atau pasrah dengan keadaan? Aku merasa asing di sini. Tidak terasa ada kehangatan di sekitarku.

Selama enam jam aku menunggu di sana, hanya satu keluarga (dua dengan keluargaku) yang menunjukkan emosi mereka. Ibu-ibu yang meluapkan emosinya, dan (mungkin) si anak yang berusaha menahan tangisnya di depan umum tetapi gagal melakukannya. Ah, mereka masih punya hati, pikirku. Seperti juga keluargaku, yang keluar dari ruang pengadilan sambil tertawa geli, membuatku penasaran apa yang terjadi di dalam sana. Selebihnya, aku tidak sedikit pun melihat ada perubahan dalam raut muka mereka. Seterbiasa itukah mereka dengan keadaan yang mereka hadapi? Atau lagi-lagi di sini hanya aku yang aneh, yang tidak terbiasa dengan hal seperti ini.

Ini hanya sedikit opiniku tentang apa yang ku perhatikan di ruang publik. Dan kebetulan saja aku dapat kesempatan datang ke pengadilan agama. Tidak ada maksud apa-apa di dalamnya. Tidak perlu setuju sepenuhnya dengan apa yang ku lontarkan. Karena ini hanya murni dari isi kepala yang dibuat terlalu lama menunggu.

Selasa, 13 Februari 2018

Februari

Bulan ini bulan Februari
katanya bulan kasih sayang
Namun mengapa
rasanya
kamu tidak menyayangiku?

Bulan ini bulan Februari
katanya bulan penuh cinta
Namun mengapa
kamu tak pernah menyatakannya?

Mungkin hanya aku
yang menginginkan cinta
darimu
yang tidak pernah
mencintaiku

Senin, 20 November 2017

Doaku

"Sudah terpikirkan olehku
untuk menikahimu."

itu kata-katamu
beberapa bulan yang lalu

kemudian
hari bergulir
menjadi minggu
hingga bulan

menurutku
tiada perubahan
di antara kita
entah denganmu

aku tak mengerti
kata-katamu kala itu
berarti
atau
hanya ilusi

aku hanya dapat berdoa
hingga
kau
menunjukkan bukti
bahwa
ini
bukanlah mimpi

Kamis, 31 Agustus 2017

Sudah Cukup

sungguh
aku mencoba
untuk percaya
kamu bisa
aku bisa
kita bisa

tapi
setiap foto
yang kau pilih
hanya
menambah
tanda tanya

aku ingin percaya
aku ingin mencoba
kamu pun jua
tapi
mengapa
yang terlihat
sebaliknya?

air mata
mulai
mendesak
namun
kau tak pantas
mendapatkannya