Tekanan akan selalu datang.
Selalu ada cara untuk bertahan.
Harus selalu kuat.
Dan terus berusaha
Rabu, 30 April 2014
Tetap Bertahan
Kamis, 24 April 2014
Alasan Suka "Bad Boy"
Sudah lama tidak pos sesuatu di blog dan tiba-tiba muncul sebuah tulisan dengan judul seperti di atas. Tercengang? Kalau tidak bikin sensasi di zaman sekarang rasanya kurang seru, bukan begitu? Maka dari itu, saya ingin membahas hal ini.
Sering kali para pria menanyakan kenapa sih kebanyakan wanita lebih suka tipe laki-laki yang bad boy? Memangnya tidak ingin punya pasangan yang baik-baik? Kalau saya ditanyakan hal seperti itu, pasti dengan mudahnya saya akan menjawab "karena pria baik akan lebih sulit diprediksi apakah juga menyukai kita di masa pendekatan." Mengapa? Karena dia sudah terbiasa baik ke semua orang. Betul kan? Pasti para wanita di luar sana yang membaca ini akan rebutan bersorak "IYAAA! BENER BANGET!!!"
Sebagai contoh misalnya ada seorang wanita dengan inisial A menyukai seorang pria baik berinisial B. Suatu hari, mereka jalan bersama hingga larut malam. Karena hari sudah malam, si B menawarkan untuk mengantarkan A sampai di rumah. Tentu saja A senang sekali, karena ketika bertemu tadi mereka berangkat sendiri-sendiri, dan tidak terpikirkan bahwa nanti akan diantar si B. Keesokkan harinya, si A cerita ke teman-temannya kalau diantarkan si B. Dan tanggapan teman-temannya adalah: "Terus kenapa? Dia emang suka nganterin cewe pulang kok kalo udah malem. Dia kan emang baik banget." Tetoooot! Patahlah hati wanita itu saat itu juga. Pasti!
Berbeda jika si B termasuk bad boy. Pasti teman-teman akan berpendapat berbeda. "Kok bisa sih? Bahkan lo bisa jalan bareng sama dia. Pulang dianterin pula. Dia kan bandel gitu anaknya. Ternyata bisa baik juga sama cewe. Wah jangan-jangan dia suka sama lo lagi," dan mereka akan dengan antusias menanyakan hal itu beserta perkembangannya dengan si A.
Jadi, tidak jarang pria baik dikatakan pemberi harapan palsu alias PHP. Dan bad boy akan lebih terlihat perasaannya dengan cara dia memperlakukan kita sebagai wanita. So? Para pria baik jika ingin mendapatkan wanita yang disukainya dan tidak mendapatkan sebutan PHP lebih baik menunjukkan perasaannya dengan lebih terang-terangan saja, karena tidak semua wanita sadar dengan segala bentuk pendekatan yang dilakukan.
Dan satu lagi, pesan untuk para wanita. Jangan cepat senang jika mendapatkan perlakuan baik dari para pria di atas jam 12 malam. Mengapa? Karena menurut saya pukul jam 12 ke atas kesadaran manusia tidak mencapai masa optimalnya. Mungkin dia akan berbuat baik pada saat itu, tapi dalam hitungan jam, di siang harinya di hari yang sama mereka akan berbeda 180 derajat mungkin saja terjadi. Jadi untuk para wanita jangan cepat senang kalau ada pria yang masih betah mengajak ngobrol hingga lewat tengah malam. Dan kalau memang benar dia ada maksud mendekati kalian dan akhirnya kalian menjadi pasangan, jangan kaget kalau dia jarang atau tidak pernah mengajak kalian ngobrol lagi lewat tengah malam. Soalnya itu hanya salah satu caranya untuk mendapatkan hati kalian, wanita paling suka diberi perhatian, kan? Yang namanya cinta katanya menerima pasangan apa adanya, jadi kalau pasangannya tidak kuat menemani begadang juga jangan marah dong ;)
Sekian celoteh saya kali ini. Siapa tahu bermanfaat :)
Kamis, 27 Februari 2014
Being Alone
Semakin bertambahnya waktu, semakin terasa begitu banyak yang harus dipikirkan. Belum wisuda saja saya mulai memikirkan ingin kerja di mana dan seperti apa. Lalu nanti kalau sudah kerja mau ngapain lagi. Hal-hal yang seperti itu mulai sedikit demi sedikit muncul di dalam kepala, meminta untuk dipikirkan. Padahal yang sedang dihadapi sekarang saja belum rampung diselesaikan.
Belum lagi saat ini saya lebih sering sendiri. Seharusnya sih waktunya digunakan untuk mengerjakan skripsi, tapi nyatanya malah lebih sering menengok ke blog ini. Entahlah, rasanya kesendirian ini terlalu mengusik pikiran (ketimbang skripsi).
Pada dasarnya pikiran ini (lebih sering sendiri) mulai muncul dari semester lalu, dimulai dari sulitnya mencari teman berkumpul, yang ujung-ujungnya saya memilih bermain bersama teman-teman lelaki walaupun itu tidak dalam waktu yang lama. Ujung-ujungnya juga nyari teman-teman di luar kampus pada di mana, kalau bisa ketemu itu akan lebih menyenangkan ketimbang harus muter-muter ke seisi kampus yang belum tentu menemukan teman yang klop.
Kemudian di awal semester baru ini, di mana kuliah baru dimulai kembali, pemikiran itu semakin parah. Sialnya jadi mahasiswa biasa saja (atau agak sedikit di bawah biasa saja), di semester akhir ini masih harus mengambil kuliah yang belum diambil semester lalu dan mengulang suatu mata kuliah sambil mengerjakan tugas akhir. Alhasil, setiap ke kampus bawaannya males. Senang juga ngga. Tugas akhir keteteran. Teman juga ga ada. Die aja lo, Yu! (Eh, jangan dong kan masih penasaran siapa nanti yang bakal jadi suami gue.)
Sendirian itu benar-benar tidak asyik sama sekali. Kecuali memang lagi menikmati angin semilir di taman sembari membaca novel romantis. Ya pokoknya yang semacam itu. Mungkin pemikiran ini masih sangat kekanakan, tapi memang saya tidak terlalu suka sendirian.
Berada di tempat umum dan sendirian itu rasanya aneh banget. Kalau menuju suatu tempat sendirian sih udah biasa (secara ga punya pacar, jadi ga ada yang nganterin #loh #kemudiancurhat #dengerinmusik #kemudiangalau). Tapi kalau udah sampai di suatu tempat umum dan sendirian itu rasanya pengen nangis pake banget. Sebenarnya ga benar-benar sendiri, tapi di sekeliling bukan bersama orang yang bisa diajak seru-seruan kayanya basi banget hidupnya. Ya walaupun emang terkadang butuh me time, tapi di luar itu benar-benar menyiksa deh kalo sendiri.
Dan teman-teman yang paling setia menemani di saat sendirian kaya gini ada beberapa, yaitu: laptop, hp, dan novel. Well, mereka adalah teman terdekatku yang paling ga bisa aku tinggal ke mana-mana. Tiap pergi pasti di dalam tas ada paling ngga ada satu di antara mereka yang menemani. Pathetic? Not really. Selama tidak mulai ngomong sendiri dilanjutkan tertawa sendiri.
Kesimpulannya di sini, selama masih ada teman di sekitar kalian yang peduli dengan kalian, dan bahkan meluangkan waktu untuk bersama kalian lebih baik disyukuri. Karena waktu adalah satu-satunya hal yang tak bisa diminta atau dikembalikan. Manfaatkanlah waktu bersama orang-orang tersayang sebelum akhirnya kalian benar-benar sendirian hingga kegelapan menjemput.
Senin, 24 Februari 2014
Who is Your Best Friend?
Jikalau ada evaluasi akhir tahun di institusi ini untuk mengetahui apa saja yang didapat selama nyaris empat tahun yang telah dijalani, mungkin jika (lagi-lagi jika) ada pertanyaan yang begitu beragam saya kira yang paling sulit dijawab adalah pertanyaan berikut:
Who is your best friend in this college?
Siapa teman terbaik Anda di kampus ini?
Saya kira membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk memberikan jawaban pada pertanyaan tersebut. Bahkan saya rasa sehari tidaklah cukup.
Kehidupan kampus memang sangat mengajarkan saya bagaimana cara bertahan untuk hidup. Karena jujur saja, walaupun di kampus memang diajarkan para senior untuk membentuk relasi dengan saling berkenalan antar angkatan, tetap saja rasanya di kampus saya sendirian. Istilah mudahnya tiada teman bergantung. Semua punya kesibukan sendiri.
Individualis dan idealis sangat dirasakan ketika saya sudah cukup lama beradaptasi di kampus. Untuk saya sendiri sangat sulit untuk mencari teman yang "klop". Cukup bersyukur masih ada teman yang menganggap saya satu "geng" dengan mereka. Tapi bagi saya, saya masih berada di lingkaran yang berbeda dengan mereka, belum masuk pada lingkaran yang sama. Maaf jika ada yang terluka, tapi memang seperti itulah yang saya rasakan.
Lalu, ke mana saya bercerita, minta tolong, bersuka-duka? Tidak salah lagi, saya mencari sahabat-sahabat lama saya. Sahabat SD, SMP, maupun SMA. Saya masih sangat merasakan mereka ada buat saya.
Beberapa contoh kecil seperti meminjam obeng, saya lebih memilih meminjam teman SMA saya yang jarang bertemu ketimbang dengan teman kampus saya. Ketika ada teman yang sedang mengalami duka, tidak segan saya langsung mengunjungi mereka atau menjenguk mereka di rumah sakit. Dan ketika ada teman saya yang mengadakan selebrasi, semuanya pun berkumpul saling membagi suka cita walau selama ini kami jarang sekali bertemu. Mungkin ini disebabkan karena kami pernah susah senang sama-sama dan rasa saling mengenal itu ada, sehingga timbul kehangatan seperti keluarga.
Namun untuk melaksanakan hal yang sama di area kampus, entah mengapa sangat sulit. Kehangatan yang terjadi di antara saya dan teman-teman saya dahulu selalu jadi perbandingan dengan kondisi saat ini. Sehingga sulit mendapatkan kecocokan dengan teman-teman di sini.
Mungkin jika dilihat saya memang orang yang "supel" mudah masuk di dalam kelompok mana pun. Ya, benar. Hal ini dikarenakan kecocokan tadi. Namun, karena hal tersebutlah sering kali saya sendirian. Ada masa di mana pembagian kelompok selalu kuhadapi dengan hembusan nafas panjang. Entah harus masuk kelompok yang mana jika saya tidak bersuara. Pasti ketika saya bertanya kelompok mereka sudah penuh atau belum ada saja yang menjawab, "Oh belum ada kelompok? Kirain udah sekelompok sama si anu." Dan si anu yang disebutkan selalu bervariasi, akibat dari yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Maka dari itu, jika pertanyaan di awal dilontarkan, maaf beribu maaf, saya memang sangat sulit untuk menjawabnya. Harap maklum.
Kamis, 20 Februari 2014
Mengapa Harus Ada Cinta?
Halo, akhirnya jumpa lagi dengan blog yang sudah melapuk ini. Sudah lama sekali tidak menumpahkan segalanya di sini. Mungkin sekarang saatnya.
Semester telah berganti, resolusi mulai dibuat kembali. Memusnahkan perasaan menyukai seseorang sepertinya tidak dapat dijadikan resolusi apabila orang yang bersangkutan masih berada di sekitar kita. Dan akhirnya hanya menjadi resolusi yang berat untuk dicapai.
Sudah mulai tidak bergantung dengannya adalah awal yang tepat, namun ternyata takdir berkata lain. Sepertinya Tuhan sedang memberi sedikit ujian dengan memberikan jadwal kegiatan yang mengharuskan aku bertemu dengannya. Rasanya ingin bertanya langsung kepada Tuhan, "Apa yang Engkau rencanakan? Membuat hatiku kembali merasakan sakit? Atau ada hadiah terindah apabila aku berhasil melewati ujianmu ini?" Tapi Tuhan tidak akan menjawab langsung pertanyaanku ini.
Hal paling sulit yang harus aku hadapi adalah menemukan dirinya bersama sang pujaan hati. Sering kali nafasku sesak karenanya. Rasa-rasanya ingin segera pergi dan menghirup udara segar saja. Masih sulit untuk menerima kenyataan adalah sesuatu hal yang wajar, kan?
Dan semalam, seperti merasa tertampar mendengar salah satu lagu Kahitna. Ya, benar. Lagunya berjudul Cinta Sendiri.
"Pedih aku rasakan
kenyataannya
cinta tak harus
selalu miliki"
Tak harus selalu miliki. Lalu, mengapa harus ada cinta? Toh ujungnya tak harus saling memiliki. Hanya meninggalkan rasa sakit. Apa gunanya rasa sakit ini?
Rabu, 02 Oktober 2013
Kirain Kamu yang.....
Judul di atas merupakan kalimat yang menyebalkan dan membuat sakit hati saja bagi saya. Bayangkan saja apabila kalimat tersebut ditambahkan kata kerja di belakangnya maka akan terdengar sebagai tuduhan. Misalnya, "Kirain kamu yang mendapatkan juaranya." Bisa membayangkan rasanya? Seseorang telah berharap kamu juara, tapi nyatanya sebaliknya. Mungkin orang yang mengatakan hal tersebut tidak ada maksud apapun, namun bagaimana perasaanmu yang telah merasa gagal juara?
Sudah dua kali saya mendapatkan pernyataan demikian. Pertama, di saat saya masih duduk di bangku SMA dan sedang menuju bangku kuliah. Saat itu hari ulang tahun saya yang hanya berbeda beberapa hari setelah pengumuman mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri. Salah satu guru les saya mengucapkan selamat ulang tahun dan ucapan selamat diterima di perguruan tinggi tersebut. Kenyataannya, saya tidak diterima dan bahkan saya tidak memberi tahu orang lain selain orang tua dan sahabat-sahabat saya yang tidak berhubungan dengan guru les saya. "Kirain kamu dapet, soalnya katanya si "anu" kamu dapet loh." Dan saya cuma bisa jawab, "Ngga Mbak, bahkan saya ga bilang hasil pengumumannya sama si "anu"." Setelahnya, saya cuma bisa nangis di kamar mandi tidak berhenti hingga mandi selesai. Padahal saya orangnya jarang menangis, hanya gara-gara hal itu bendungan air mata saya bocor. Mengapa saya begitu sedih? Sederhana saja. Itu tes perguruan tinggi pertama yang saya ikuti dan juga merupakan perguruan tinggi pertama yang mengumumkan hasil tesnya pada saat itu. Perguruan tinggi ini benar-benar saya idamkan bertahun-tahun. Kenyataannya, diumumkan berdekatan dengan ulang tahun saya dan hasilnya nihil, saya tidak termasuk di dalam daftar mahasiswa baru mereka. Ditambah dengan munculnya gosip yang mengatakan bahwa saya mendapatkannya. Perasaan saya saat itu kesal oleh karena penyebar isu palsu yang mengumbar berita yang sebenarnya bahagia bila benar-benar terjadi tapi nyatanya hanya membuat luka di hati, dan kecewa karena hasilnya juga mengecewakan orang lain yang telah berharap saya lulus tes dan menjadi bagian dari perguruan tinggi tersebut. Tidak hanya saya yang kecewa. Itu yang membuat saya semakin sedih, menambah beban bagi mental dan batin. Kalau ingin tahu kelanjutannya, perjuangan saya sampai akhir untuk masuk ke perguruan tinggi ini tidak berhasil. Bisa dicek di postingan yang telah tenggelam oleh waktu.
Yang kedua... Terlalu pedih untuk diceritakan. Dengan kalimat seperti pada judul, saya dikira menjalin hubungan dengan seseorang yang benar-benar saya sayangi, namun nyatanya bukanlah saya yang menjadi pendamping mereka. Mereka? Ya, bukan sekali saya pernah merasa seperti ini. Jangan mulai mengasihani saya hahahaha. Mengapa bisa terjadi? Karena diawali dengan pertemanan biasa, lalu lama-kelamaan menjadi lebih dekat, dan akhirnya saya sayang #eh Namun mereka memiliki wanita lain untuk disayangi #eeh Jadi saya hanya bisa menyayangi mereka sebagai teman dan (mencoba) bahagia bila mereka pun demikian #eeeh
Intinya, saya ini orangnya sensitif #loh Semuanya bisa saya pikirkan walau hanya sekadar ucapan lalu yang mungkin menurut kalian hal itu biasa saja tapi ternyata sangat bermakna untuk saya. Jadi, jangan dipikirkan kata-kata saya, karena ini hanya celoteh asal. Sekian.
Sudah dua kali saya mendapatkan pernyataan demikian. Pertama, di saat saya masih duduk di bangku SMA dan sedang menuju bangku kuliah. Saat itu hari ulang tahun saya yang hanya berbeda beberapa hari setelah pengumuman mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri. Salah satu guru les saya mengucapkan selamat ulang tahun dan ucapan selamat diterima di perguruan tinggi tersebut. Kenyataannya, saya tidak diterima dan bahkan saya tidak memberi tahu orang lain selain orang tua dan sahabat-sahabat saya yang tidak berhubungan dengan guru les saya. "Kirain kamu dapet, soalnya katanya si "anu" kamu dapet loh." Dan saya cuma bisa jawab, "Ngga Mbak, bahkan saya ga bilang hasil pengumumannya sama si "anu"." Setelahnya, saya cuma bisa nangis di kamar mandi tidak berhenti hingga mandi selesai. Padahal saya orangnya jarang menangis, hanya gara-gara hal itu bendungan air mata saya bocor. Mengapa saya begitu sedih? Sederhana saja. Itu tes perguruan tinggi pertama yang saya ikuti dan juga merupakan perguruan tinggi pertama yang mengumumkan hasil tesnya pada saat itu. Perguruan tinggi ini benar-benar saya idamkan bertahun-tahun. Kenyataannya, diumumkan berdekatan dengan ulang tahun saya dan hasilnya nihil, saya tidak termasuk di dalam daftar mahasiswa baru mereka. Ditambah dengan munculnya gosip yang mengatakan bahwa saya mendapatkannya. Perasaan saya saat itu kesal oleh karena penyebar isu palsu yang mengumbar berita yang sebenarnya bahagia bila benar-benar terjadi tapi nyatanya hanya membuat luka di hati, dan kecewa karena hasilnya juga mengecewakan orang lain yang telah berharap saya lulus tes dan menjadi bagian dari perguruan tinggi tersebut. Tidak hanya saya yang kecewa. Itu yang membuat saya semakin sedih, menambah beban bagi mental dan batin. Kalau ingin tahu kelanjutannya, perjuangan saya sampai akhir untuk masuk ke perguruan tinggi ini tidak berhasil. Bisa dicek di postingan yang telah tenggelam oleh waktu.
Yang kedua... Terlalu pedih untuk diceritakan. Dengan kalimat seperti pada judul, saya dikira menjalin hubungan dengan seseorang yang benar-benar saya sayangi, namun nyatanya bukanlah saya yang menjadi pendamping mereka. Mereka? Ya, bukan sekali saya pernah merasa seperti ini. Jangan mulai mengasihani saya hahahaha. Mengapa bisa terjadi? Karena diawali dengan pertemanan biasa, lalu lama-kelamaan menjadi lebih dekat, dan akhirnya saya sayang #eh Namun mereka memiliki wanita lain untuk disayangi #eeh Jadi saya hanya bisa menyayangi mereka sebagai teman dan (mencoba) bahagia bila mereka pun demikian #eeeh
Intinya, saya ini orangnya sensitif #loh Semuanya bisa saya pikirkan walau hanya sekadar ucapan lalu yang mungkin menurut kalian hal itu biasa saja tapi ternyata sangat bermakna untuk saya. Jadi, jangan dipikirkan kata-kata saya, karena ini hanya celoteh asal. Sekian.
Rabu, 25 September 2013
Hilanglah atau Hapuskan
Melihat dirimu dari kejauhan merupakan rutinitas terbaruku saat ini. Di mana setelah kejadian "itu" hubungan kita (aku rasa) tidak akan sedekat dulu. Dimulai dari kejujuran-kejujuran yang terurai dari masing-masing individu, membuat jarak yang sudah dekat menjadi lebih jauh daripada sebelumnya.
Bukan karena aku tidak mau kita berteman seperti semula, yang tidak mengaitkan hati di dalamnya, tetapi karena keadaan membuat semakin sulit untukku menutupi perasaanku yang sebenarnya. Melihat kalian berada di dalam satu bingkai mataku sudah sangat menyakitkan. Dirimu tegak berdiri memandang pujaan hati, sedangkan hatiku teriris perih menanggung kenyataan pahit. Kita tak kan mungkin bersama.
Dan segala perbuatanmu, yang terkadang aku anggap sebagai permintaan maafmu, hanya menambah beban di hatiku. Sikapmu yang begitu baik kepadaku akan berimbas kepada perasaanku yang semakin tertahan, dan akhirnya tekanan untuk menghindarimu akan semakin besar. Lalu, kau akan memulai kembali segala perilaku baikmu terhadapku, dan siklus ini akan terus berulang.
Tidakkah kau mengasihani hatiku?
Lebih baik kau menghilang walau mustahil, atau buatlah aku dapat menghapus semua ingatan tentangmu.
Langganan:
Postingan (Atom)