Rabu, 25 September 2013
Hilanglah atau Hapuskan
Minggu, 22 September 2013
Pertanyaan yang Tak Akan Terjawab
Sabtu, 14 September 2013
Hati yang Terjajah
Selasa, 10 September 2013
Sakit Memang, Tapi...
Rabu, 24 Juli 2013
Sebuah Kisah
Minggu, 07 Juli 2013
Resah dan Gelisah
Dan sekarang ditambah lagi wacana baru, yaitu pernikahan. Ini akibat salah satu teman dekat sudah ada yang menginjak pelaminan dengan prosesi yang sakral itu. 20 tahun. Bukan usia yang sudah cukup untuk menikah, tapi bisa saja apabila ingin menikah. Dan teman gue yang satu ini gue bilang hebat banget mengambil keputusan untuk menikah di usianya saat ini dan di saat sedang mengurus skripsi. So, I hope the best for your life, my friend :)
Yak balik lagi ke gue. Sesungguhnya semakin bertambah usia, semakin banyak yang gue pikirkan tentang si masa depan ini yang terkadang membuat gue gelisah. Pertanyaan-pertanyaan seperti judul skripsi gue apa, gue bakal kerja dimana, kapan gue menikah, siapa suami gue nanti, dan lain-lain terkadang membuat mumet kepala. Banyak faktor yang membuat gue memikirkan hal ini. Terutama adalah orang tua.
Orang tua gue udah cukup tua untuk selalu merawat gue, seharusnya sekarang ini gue yang merawat mereka. Namun, karena gue yang masih kuliah ini, gue belum bisa menghasilkan apa-apa yang bisa membuat mereka bahagia. Maka dari itu, harapan jangka pendek gue untuk membuat orang tua gue bahagia adalah dengan lulus 4 tahun dan mendapatkan IPK minimal 3,00 (aaaaamiiiin). Terus selanjutnya mendapatkan kerjaan yang menyenangkan hati gue maupun mereka (aaaaamiiiin). Lalu, menikah dengan lelaki baik-baik menurut gue dan menurut mereka (aaaaamiiiiiin). Dan harapan-harapan lainnya seperti memakai hijab dan umrah bersama mereka (aaamiiiin) mungkin setidaknya walaupun hanya seperti itu dapat membahagiakan mereka sedikit demi sedikit dan semoga waktunya cukup untuk melakukan itu semua (aaaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiin!)
Resah dan gelisah ini tidak akan usai apabila harapan-harapan itu tak segera terjawab. Maka cepatlah semuanya berlaluuuuu!!!
Kamis, 13 Juni 2013
Entahlah
Benar-benar bingung dengan perasaanku kemarin. Antara senang sekali hingga ingin menangis, atau perih di dada yang membuatku meringis.
Benar-benar hadiah terindah di umur ke dua puluh mendapatkan perlakuan istimewa darimu walaupun terlambat nyaris 2 bulan. Mungkin menurutmu hal itu hanyalah sesuatu yang biasa saja, namun (maaf) bagiku merupakan sesuatu yang luar biasa.
Secara serentak, kemarin seluruh kenangan berkecamuk di dalam kepala. Saling mendahului untuk meminta diingat terlebih dahulu. Indah memang dikenang, akan tetapi hati ini perih menahan sakitnya luka lama yang terbuka kembali.
Perlakuan istimewa darimu, entahlah, hanya darimu yang membuatku menjadi gusar sepanjang waktu. Ingin mengungkapkan sesuatu, dan selalu tidak jadi akibat dari keberanian yang belum cukup serta hati yang tak sanggup menerima kabar buruk.
Tidak mau jauh namun hati tak sanggup dekat. Ya, karena hatimu sudah dimiliki orang lain, orang yang kamu cintai. Jelas itu bukan aku. Bukan juga hatiku.
Terkadang jika hati ini tak mampu menanggung rasa sakit, bendungan air mata pun pecah hingga mengaliri pipi. Entahlah mengapa aku berbuat demikian. Toh keadaan kita tidak mungkin berubah menjadi yang aku inginkan bukan?
Saat ini, saat yang sedang kujalani, sudah cukup untukku. Walaupun bukan aku yang menjadi nomor satu di matamu, tapi aku cukup lega bahwa kamu masih menganggapku sahabat baikmu :")
Sudah, jangan pedulikan aku.
Entahlah, aku pun tak mengerti mengapa aku begini.