Selasa, 16 Februari 2010

Cerita Supir Angkot

Hari ini gerimis. Tidak memungkinkan untuk saya pulang dengan bantuan ojek, jadi saya memilih untuk naik angkot saja dengan harapan angkot yang menuju daerah rumah saya tidak meninggalkan penumpangnya ini.

Seperti yang saya duga, saya ditinggal oleh angkot tersebut. Dengan sangat terpaksa saya harus jalan daripada menunggu di dalam angkot yang ngetem. Tidak apa-apalah. Untung hujannya tidak terlalu deras.

Ternyata nasib saya tidak begitu jelek. Tidak lama kemudian ada angkot yang lewat. Dalam hati saya berkata, "Tau gitu dari awal gue nunggu aja di dalam angkot walopun ngetem." Namanya juga penyesalan selalu datang belakangan. Ya sudah ambil hikmahnya saja, yang penting sekarang saya tidak harus berjalan jauh untuk pulang.

Ketika saya menutup payung dan ingin melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam angkot, tiba-tiba sang supir berkata, "Dik bisa minta tolong?" Ternyata bapak itu meminta saya untuk membenarkan letak kaca spionnya. "Terima kasih ya Dik," ucap bapak itu setelah saya menolongnya. Perlu diketahui saya satu-satunya penumpang di angkot tersebut.

"Kelas berapa kamu?" tanya si supir. Saya jawab saya kelas 3. Beliau bertanya kembali "Di mana sekolahnya?" Saya jawab di 81. Lalu dia melontarkan pertanyaan selanjutnya, "Kamu kelas apa, reguler apa internasional?" Sepertinya bapak ini tahu banyak tentang 81. Saya sempat heran kenapa bapak ini bisa tahu 81 sampai ke jenis kelasnya, padahal beliau hanya supir angkot yang mungkin saja pendidikannya tidak seberapa, sedangkan orang lain saja pasti yang ditanyakan adalah '81 itu di mana?' Selain itu bapak itu bertanya apa jurusan saya.

Tidak lama kemudian, bapak itu bercerita, "Anak saya jebolan 71 tapi dia bisa masuk UI. Saya tidak pernah meminta dia untuk belajar, tapi saya hanya berkata kalau dia harus bisa masuk UI, karena dia sekarang sudah tidak punya ibu. Dan sekarang dia berhasil masuk UI." Wow, saya agak terkejut mendengar penuturan si supir. Ada perasaan kagum menyelimuti diri saya. "Anda juga pasti bisa, karena anak saya saja bisa." Bergetar hati saya begitu mendengar kata-kata tersebut.

Tidak habis pikir, dengan profesi hanya sebagai supir angkot, beliau sangat mementingkan pendidikan untuk anaknya. Beliau juga berkata bahwa rata-rata uan anaknya ketika masuk SMA berkisar di angka 9. Luar biasa! Bagaimana bapak itu mendidik anaknya sehingga anaknya bisa begitu sukses? Hal ini membuat saya berpikir bahwa mereka yang bisa dibilang masyarakat dengan ekonomi rendah sangat mementingkan pendidikan. Jarang sekali ada orang yang berpikiran seperti bapak ini.

Ketika saya menyerukan, "Kiri ya pak," bapak itu menepikan angkotnya dan berkata, "Belajar yang rajin ya Dik, Anda pasti bisa." "Terima kasih, Pak," jawab saya sambil menyunggingkan senyum. Di akhir pertemuan saja bapak tersebut memberikan kalimat bijak yang dapat memotivasi diri saya. Saya harus bisa dan saya harus lebih rajin dari sekarang! Jangan pernah meremehkan orang lain, karena orang lain yang terlihat biasa saja dapat mengalahkan Anda semua, seperti anak dari seorang ayah yang hanya bekerja sabagai supir angkot. Maka dari itu, berusahalah secara maksimal dan tunjukkan yang terbaik!

Terima kasih atas wejangannya ya Pak :)




Rabu, 02 Desember 2009

curhat boleh dong

gilaaaa udah lama banget ga ng-blog.. bahasanya mungkin agak beda dengan postingan sebelum-sebelumnya.. karna saat ini gue sedang sampai di titik jenuh dan ga tau mau cerita sama siapa.. kepenatan tuh bener-bener bisa bikin seseorang emosi ya.. akhir-akhir ini gue sering banget penat.. penyebabnya sih ga bisa dibilang karna gue punya masalah atau apa, tapi gue yang terkadang ga bisa menerima kenyataan yang ada atau ada orang lain yang ga memahami gue, dan itu jadi pikiran yang menumpuk di otak gue..

sebenernya apa sih yang menyebabkan gue jadi kaya gini? ya ya ya gue tau gue tipe orang yang ga bisa ga mikirin orang lain yang menyebabkan diri gue sendiri terbengkalai.. contohnya, gue suka banget lupa makan kalo mikirin masalah orang yang abis curhat sama gue.. tapi kalo gue lagi ga mikirin orang lain, pasti gue sedang dalam keadaan tertekan di mana orang-orang ga ada yang ngertiin gue, apalagi kemampuan gue..

gue tau manusia ga ada yang sempurna, dan gue salah satunya.. tapi apa orang lain ga ngerti hal itu? gue juga punya yang namanya batas kemampuan.. dan gue juga punya keinginan.. tapi kenapa terkadang orang di sekitar gue ga pernah memahami kemampuan dan keinginan gue? ya, gue tau orang yang ga memahami gue itu adalah orang yang ingin keinginannya terkabul lewat gue.. namun apa daya, gue ga mampu dan itu ga sesuai dengan keinginan gue.. so, jangan heran kalo gue suka meledak secara spontan

Selasa, 31 Maret 2009

senyummu, semangatku

Hmm... Senyum sahabat itu indah sekali yaa. Atau hanya perasaanku saja? Bila aku sedang sedih atau tidak bersemangat, dan tiba-tiba aku melihat senyum sahabatku, aku merasa lega dan langsung tersenyum kembali. Jika aku sedang sangat kesal sekalipun, aku akan luluh bila sahabatku, paling tidak satu orang, memperlihatkan senyumannya kepadaku. Aku tidak merekayasa hal ini. Ini yang terjadi pada diriku. Sebenarnya ada apa dibalik senyuman itu?

Aku merasa senyuman dapat memberikan suatu dorongan kepada diri kita untuk bersemangat kembali, apalagi senyuman itu kita dapatkan dari orang yang kita sayangi. Dan setelah melihat senyum mereka pun dapat merubah pola pikir, yang tadinya sedang sedih lalu langsung berpikir untuk apa kita sedih toh ada teman kita yang dapat menemani kita bersanda gurau, yang tadinya kesal lalu berpikir untuk apa kesal toh masalah itu tidak dapat selesai dengan kekesalan yang terus menerus. Yaa memang, setelah dipikir-pikir senyum itu tidak menyelesaikan masalah sepenuhnya, tapi paling tidak kita jadi tidak berlarut-larut di dalam kesedihan atau pun kekesalan.

Jadi intinya apa? Hmm, sebenarnya sih hanya sekedar meluapkan isi kepala saja. Pagi tadi, aku memulai aktivitasku dengan murung. Entah mengapa aku sedang lemas sekali hari ini. Tapi aku menemui beberapa sahabatku yang memberikan senyuman terbaiknya (menurutku) kepadaku. Tiba-tiba rasanya murung itu lenyap tanpa jejak. Lalu aku dapat menjalani hari ini dengan penuh keceriaan.

Hanya sekedar senyum loh. Aku juga tidak mengerti apa sebabnya. Sepertinya jika aku melihat sahabatku atau orang lain yang aku sayangi tersenyum terhadapku, aku mendapatkan energi mereka untuk ceria kembali (halaaah, apaan tau). Yaa aneh memang, tapi itulah yang kurasakan. Senyummu, semangatku itulah aku. Maka dari itu, aku amat menyayangi orang di sekelilingku. Karena mereka dapat membuat sesuatu yang berwarna gelap menjadi cerah, sesuatu yang kelam menjadi indah :) 

Jumat, 06 Maret 2009

posting lagi dan marah-marah, haha

Haaaaiiiii!!! Setelah sekian lama tidak posting, akhirnya bisa posting kembali. Maklum, orang sibuk jadi jarang punya waktu untuk mengetik dan menceritakan sesuatu. Hahahaha sombongnya saya. Mumpung saya lagi di rumah dan tidak ada kerjaan, jadi saya posting kembali.

Kali ini mau bahas apa ya? Hmm, bingung. Kemarin-kemarin banyak yang pengen dibahas, tapi karena saya lemah otak alias pelupa, jadi saya lupa mau membahas apa aja, hehehe..

Hmm, sebenarnya beberapa hari ini saya sering sekali kesal dengan orang-orang di sekitar saya. Salah satu penyebabnya adalah ketidaksukaan saya terhadap seseorang yang selalu negative thinking.

Entah kenapa orang tersebut lebih sering memikirkan sesuatu dari jeleknya saja. Apalagi jika itu berhubungan dengan seseorang. Astagaaa, rasanya saya ingin kabur saja setiap ada yang mengatakan hal yang menurut saya tidak benar itu. Menurutnya, semua pandangan yang dia punya itu yang paling benar. Padahal belum tentu begitu. Kalau memang orang tersebut memang mengenal baik orang yang menjadi korbannya ini (hmm, bingung juga mau disebut apa) tidak masalah. Tapi kalau orang tersebut hanya kenal "tampang" dan langsung menilai negatif saya amat sangat tidak suka. Memangnya tahu dari mana kejelekannya? Iya kan? Setuju kan?

Wah, saya amat memaksa ya? Hahahaha, maklum terbawa emosi. Ini baru penilaian terhadap orang lain. Nah, kalau sampai penilaian terhadap suatu acara bagaimana? Membuat seseorang yang tadinya ingin mengikuti acara tersebut malah tidak jadi karena kesal terhadap cerocosan orang lain yang hanya "omong doang tapi tidak berbobot dan belum tentu benar adanya".

Kesal sekali rasanya tidak jadi pergi hanya karena alasan itu. Aaaaaah!!!

Kenapa sih kebanyakan orang menilai sesuatu dari sisi jeleknya dahulu? Tidak semuanya pasti jelek kan? Sejelek-jeleknya orang atau sejahat-jahatnya orang pun pasti ada baiknya juga. Kenapa harus dilihat secara negatif? Padahal belum tentu benar dan tiada bukti. Huh! Sebaaal!!

Minggu, 04 Januari 2009

itik buruk rupa

Suatu hari, hiduplah sekeluarga itik yang bahagia. Kehidupan mereka selalu dipenuhi tawa dan canda. Namun, itu tidak dirasakan oleh salah satu anak itik tersebut semenjak ia berada di dunia.


Hidup itik itu berbeda dengan saudara-saudaranya. Setiap apa yang itik tersebut lakukan pasti selalu dinilai negatif. Entah mengapa. Ia selalu iri dengan teman-temannya yang hidup rukun dengan keluarganya. Ia hanya bisa menatap dan menyimpan rasa irinya dalam hati, "Andaikan aku seperti mereka."


Teman-teman yang bersimpati kepadanya hanya sedikit. Dan setiap si itik berkumpul dengan mereka pasti orang tuanya hanya menjelek-jelekkan mereka saja. "Sepertinya aku selalu salah, sebenarnya apa salahku? Apa yang harus aku perbuat agar mereka semua memandangku normal?"


Lelah rasanya menjadi si itik buruk rupa. Tiada yang mengerti perasaannya, kecuali teman-temannya. Namun, mereka tak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa memberi dorongan semangat untuk temannya yang kurang beruntung itu. Itik pun hanya dapat berterima kasih kepada Tuhan karena masih ada yang dapat mengerti dirinya walau hanya segelintir temannya.


Sang itik buruk rupa pun dapat merasakan kejenuhan yang amat sangat. Jika ia sedang merasakan seperti ini, ia akan berlari menuju kolam lumpur. Hanya di sini ia mampu menumpahkan air mata beserta emosi di dalam jiwanya. Tiada yang mengetahui akan hal ini. Hanya dirinya dan Tuhan. Dan setiap kali dia mengunjungi tempat ini dia selalu berkata akan hal ini sambil menangis:
"Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah mengizinkan aku untuk melihat dunia. Terima kasih Engkau telah memberikan aku teman-teman yang bersimpati kepadaku. Terima kasih Engkau telah memberikan aku keluarga yang mungkin akan lebih bahagia jika tanpa diriku yang hina ini. Namun aku belum merasakan bagaimana rasanya bisa bahagia. Apa yang harus aku lakukan agar aku dapat bahagia? Sekali saja aku ingin merasakannya. Atau memang ini takdirku untuk tidak dapat merasakannya dan hanya dapat melihatnya saja? Jika memang itu yang Engkau inginkan, aku hanya bisa berterima kasih padaMu. Terima kasih Engkau selalu membuatku belajar untuk sabar. Sabar dan menanti sampai aku dapat meraihnya."

Senin, 29 Desember 2008

berkumpul kembali,horeeee...

Yeeeeeey!!! Senang senang senang!!! Setelah sekian lama saya tidak jalan-jalan bersama kakak-kakak saya tercinta, akhirnya saya bisa berkumpul lagi dengan mereka. Hehehe.. Seneng banget!!


Dimulai dari pulangnya my second silly sister ke home sweet home. Itu aja udah membuat saya senang karena dia cuti, yang berarti dia akan lama di rumah,hehehe. Lalu, ketika my second silly sister menginjakkan kakinya di rumah, ternyata my first crazy sister juga ikut menjemput dan itu menyebabkan dia menginap di rumah. Yeeeee senengnyaaa!!! Rumahnya rame lagi seperti dulu!!! Tapi masih kurang satu, yaitu the one and the only one brother yang saya punya. Tapi tak apalah, setidaknya saya masih bisa bercengkrama, bercanda ria, gulat-gulatan, timpa-timpaan, dan melakukan hal extrim lainnya, (hehehe gue nya lebay).


Kemudian, hari sabtu pagi (pagi buat gue, padahal udah jam 11 kalo ga salah), saya mendatangi kamar kakak saya dan mengajaknya untuk pergi. Dan tanpa basa-basi, kakak saya langsung mau. Lalu disuruhlah saya untuk menghubungi kakak laki-laki saya apakah dia bisa ikut atau tidak. Setelah semuanya oke, kami pun beranjak dari tempat tidur (wueee ketauan baru bangun deh) dan segera mempersiapkan diri.


Sebelumnya the sisters (kaya' shireen sungkar aja,hehehe) mengantarkan paman dulu ke bandara. Setelah itu kami pun menuju sebuah mall tempat kami janjian dengan brother kami. Sesampainya di sana kami langsung menuju bioskop. Sudah lama sekali kami tidak menonton bersama. Film pun berakhir dan kami menuju salah satu restoran di sana. Setelah santap siang, saya iseng mampir ke Fun World, gara-gara itu kakak-kakak saya jadi ingin bermain di sana. Wuaaah, tumben banget pada mau main. Akhirnya kami main sebentar di sana. Selanjutnya kami ke gramed, maklum sekeluarga doyan buku. Tidak terasa malam telah datang, kami membeli cemilan sebentar lalu pulang, yang artinya harus berpisah lagi dengan brother tercinta. Yaa tak apalah, kan masih bisa bertemu lagi kapan-kapan.


Saya senaaaaaang sekali. Puas untuk seharian jalan-jalan kembali dengan mereka, berkumpul kembali dengan mereka. Waktu dan tuntutan peran di masyarakat membuat kami jarang berkumpul. Tapi komunikasi tetap jalan. Walaupun merasa kesepian tapi begitulah. Setidaknya saya bisa menelpon mereka jika saya merindukan mereka. Dan di rumah masih ada papa mama yang menemani saya. Love my family sooooooooooooo much :)

Minggu, 21 Desember 2008

Jatuh Cinta

Hmm...
Sebenarnya topik kali ini dapat inspirasi dari berbagai orang di sekitar saya. Beberapa sepertinya sedang terkena "penyakit" ini. Jadi tergeraklah hati saya untuk mengetik (kan di laptop ga bisa nulis) tentang ini. Dan ini menurut pendapat saya loh. Kalau ada yang salah mohon dimaafkan, toh saya juga manusia.


Jatuh cinta...
Terdapat 2 kata yang menurut saya benar-benar berbeda. Jatuh itu menyebabkan rasa sakit. Dan cinta itu membuat orang bahagia. Memangnya jatuh bisa membuat orang bahagia ya? 


Jatuh cinta...
Seperti filosofi memakan permen karet (kalo kata gue loh). Begitu memulai rasanya manis dan enak untuk dinikmati. Tapi lama-kelamaan permen karet tersebut pun akan mulai berubah rasanya dan menjadi tidak nikmat untuk dinikmati lebih lama dari itu. Dan pada akhirnya harus dibuang di tempat sampah bersama sampah dan kotoran yang lain.


Anggap saja permen karet tersebut orang yang membuat kita jadi jatuh cinta. Pada awalnya memang kita senang, nyaman, aman, dan lain-lain jika bersama dengan orang itu. Tapi begitu sampai pada "titik jenuh" (wedeeeh bahasa gueee) dengan cepatnya semua itu berubah. Mungkin yang dari perhatian menjadi misscomm, dari yang cemburuan malah jadi acuh, dan tragedi yang lainnya.


Yaa walaupun pada akhirnya itu tergantung dengan manusianya masing-masing. Tidak semuanya merasakan hal yang sama.


Bisa saja orang lain mengartikannya berbeda... Dia jatuh lalu rasa sakitnya diobati oleh cinta... 


Indah bukan kalau memang itu yang terjadi. Tapi jika lebih terasa jatuhnya itu akan menyakitkan.


Sudahlah itu tergantung persepsi Anda masing-masing. Dan itu lah pendapat saya.