Selasa, 09 Agustus 2022

Royal Enfield

Dulu, setiap aku lihat Royal Enfield,
"Kapan ya aku bisa dibonceng orang naik itu?" dengan mata berbinar penuh harap.


Sekarang, setiap aku lihat Royal Enfield, yang kuingat percakapan kita;

aku: Kamu mau ga punya itu? (tanganku menunjuk Royal Enfield yang mendahului kita)

kamu: Ngga. Ngapain. Banyak yang punya. Lagian sayang, mending uangnya buat beli mobil second, sama beli motor 2, yang kaya gini (merujuk ke motor tuamu), dan yang buat dipakai sehari-hari. 'Kan keren ga ada yang nyamain kalau naik motor kaya gini.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban kamu, kala itu.


Sekarang, aku tersenyum mengingat kenangan itu. Dan masih penuh tanya apakah ada kesempatan bagi kita kembali berbincang, tidak hanya untuk merajut kenangan, tetapi menjalin kembali apa yang pernah usai.

Senin, 13 Juni 2022

Dear Papa

assalamu'alaikum Pa!

ga terasa sudah 6 tahun ga ketemu Papa, ngobrol sama Papa, manja-manjaan sama Papa.

jelas, Mben kangen banget. apalagi kalau lagi capek kerja, pulang malam, ga ada yang jemput. Mben pasti langsung inget sama Papa, yang selalu siap sedia menjemput jam berapa aja. kenapa ga minta jemput yang lain? hmm... Papa aja maunya ke mana-mana sama Mben, bukan anak Papa yang lain ehehehehehe.

Pa, aku mau bilang makasih ya sudah mau jadi Papanya Mben. jujur, semenjak Papa Mama "pulang", Mben bersyukur jadi anak kalian. padahal dulu aku sebel, maaf yaa anaknya begini :(

Mben berpikir kalau bukan jadi anak kalian pasti penampilan aku tidak seperti sekarang, walaupun sekarang juga belum sempurna, tapi setidaknya beradab, berusaha mengikuti ketentuan agama. ga pake asymmetric crop top (walau pengen banget! wakakakak), masih ingat waktu kalau pergi, dan tau tempat seperti apa yang tidak boleh didatangi.

jadi setidaknya Papa Mama bisa tenang meninggalkan Mben yang bisa jaga diri, walau banyak ngeluh dan kadang suka bandel hehe maafin.

dan maaf juga kalau Mben gagal membuat Papa bangga. tapi satu hal yang Papa Mama harus tau, kegagalan ini yang membuat Mben bisa berkembang, tidak tetap menjadi pribadi yang tertutup seperti dulu. Mben juga masih terus usaha untuk berkembang menjadi lebih baik lagi. jadi lihatlah Mben dari sana, semoga bisa membayar kegagalan yang telah Mben lewati.

pokoknya Mben kangen Papa. Mama juga. apalagi Ida. entah kapan kita akan berjumpa lagi, tapi semoga kelak kita berkumpul di tempat terbaik, surganya Allah. aamiin. biarkan Mben memupuk kebaikan dari yang Papa ajarkan sebagai bekal Mben di akhirat kelak.

miss you.

forever.

and always.

dari anak gadismu, yang sudah terlalu tua untuk dipanggil gadis ga sih? doain aja ya Pa sebelum 30. Ya ampun tinggal hitungan bulan... kepedean ya anak Papa satu ini.

Senin, 04 April 2022

Kalau Tanpa Kamu

kalau tanpa kamu...

aku hancur.


iya, hancur. ke mana lagi aku harus bergantung bila tiada lagi yang dapat diandalkan?


namun,

bersama kamu aku sakit.


iya, sakit. merasa diabaikan. merasa bertepuk sebelah tangan. padahal semua ini dimulai dari kamu, tapi kenapa sepertinya aku yang lebih mencintai kamu, sedangkan kamu tidak pernah bilang sayang aku.


katamu tidak usah dipermasalahkan.

sungguh ini masalah besar.

bersama dengan orang yang tidak mencintai kita kembali, rasanya menyesakkan. bayangkan, kita sibuk memberi, tapi tidak pernah menerima. lama-kelamaan kita menjadi kosong, seperti motormu yang sudah lama tidak diisi bensin, lama-lama rusak, kemudian hancur juga.


mungkin itu yang membuatku hancur.

merasa bodoh.

waktu sudah banyak dilalui bersama tapi tidak ada perubahan berarti.

wajar bila aku selalu meminta hakku untuk disayangi.

yang tidak wajar itu jika aku masih memberi kesempatan kepada seseorang yang tidak menggunakan kesempatan-kesempatan yang diberikan dengan baik.


entah apa salahku, sampai begitu sulit kamu terima. namun, tidak juga kau campakkan.


biarlah aku hancur. seperti lirik lagu banda neira,

yang hancur lebur akan terobati.


mungkin aku gila, karena di dalam hatiku masih berharap kamu yang akan mengobati. padahal realita sudah menampakkan, berharap pada manusia hanya menimbulkan luka. luka yang membuat aku hancur. seperti sekarang.


kalau tanpa kamu akan mengobati kehancuranku, mungkin ini saatnya aku menikmati kehancuranku untuk menemukan yang terbaik untukku.

Rabu, 12 Januari 2022

Ringkasan Sebuah Percakapan

ini benar-benar sebuah ringkasan percakapan antara aku dan salah seorang teman yang tidak disangka memiliki kegelisahan yang sama. mungkin karena kami di fase yang sama, sama-sama berumur di akhir dua puluhan. dikhususkan pembahasan ini mengenai pasangan.

sebagian besar orang indonesia pasti mendapat tekanan ketika sudah hampir tiga puluh tahun dan belum menikah. sama halnya dengan kami. entah tekanan ini datang dari keluarga sendiri, atau dari lingkungan terdekat. dan satu hal lagi yang aku rasa juga berpengaruh besar yang tanpa disadari juga membuat tertekan dan ingin mendapatkan kehidupan seperti yang dilakukan banyak orang, yaitu sosial media. suatu hal yang kita ciptakan sendiri, namun malah terkadang menyakiti diri sendiri.

banyak orang berpikir kami ini terlalu picky. tidak sedikit juga yang menyuruh kami untuk introspeksi diri, seolah-olah tabiat kami yang membuat para lawan jenis tidak tertarik pada kami.

bagaimana kami tidak semakin picky. menemukan seseorang dengan 'bare minimum' (istilah dari temanku) saja sulit. bare minimum di sini antara lain rajin shalat, tidak minum-minuman keras, dan normal. normal yang dimaksud itu selain hasratnya tidak melenceng (bagi kami), juga setia. semenjak ada drama bersambung dengan tema perselingkuhan, semakin banyak saja kasus perselingkuhan yang muncul ke permukaan. belum lagi kasus kejahatan lain, yang membaca judul artikelnya saja sudah membuat sakit kepala. lama kelamaan membuat kami semakin insecure, masih adakah lelaki normal itu?

yang kedua, bukannya kami tidak introspeksi diri, tapi masih ada kok sebenarnya yang mendekati kami. namun... ada banyak hal yang membuat kami tidak bisa melanjutkan ke hubungan yang lebih serius. salah satunya, yang mendekati sudah punya pasangan (halal maupun belum), atau masih di fase belum menyelesaikan masa lalunya. hanya orang gila yang masih bisa melanjutkan hubungan dengan orang yang seperti ini. kami juga punya hati yang tahu rasanya disakiti. jadi kami juga tidak ingin menyakiti orang lain. dengan kata lain yang mendekati kami ini tidak masuk kategori normal yang sudah disebutkan sebelumnya.

"masa yang deketin ga ada yang normal satu pun?" ada. ada banget. tapi... (terus aja ada tapi dan namun) secara physically atau mentally umurnya masih di bawah kami. bisa dibilang diperlukan waktu lama untuk bisa nyambung. kami terlalu lelah menghadapi pdkt 'sudah makan belum?' 'lagi apa?' dan berbagai pertanyaan retoris lainnya. sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi di saat ini (mungkin karena terlalu banyak yang hanya dengan kata-kata saja) kami butuh aksi juga. kalau ingin mengobrol mungkin bisa dengan "how's your day?" dan dengarkan kami, luangkan waktu dan anggap keberadaan kami, tidak hanya untuk mengisi waktu kosong saja. kami perlu sosok yang bisa membimbing dan mengayomi.

kasus yang sama terjadi pada kami adalah ketika sudah menemukan yang nyambung, sudah 'klik', dan kami menunjukkan sinyal positif kepada yang bersangkutan, sinyal kami kehilangan arah, alias si penangkap sinyal ini hilang entah ke mana. aneh ya? iya, kami juga bingung. itulah mengapa kami sekarang sering kali tidak menghiraukan obrolan yang menjurus, atau tidak memasukkan ke dalam hati berbagai jenis flirting yang dikeluarkan. kecuali, orang tersebut benar-benar menunjukkannya juga dengan perbuatan. 

that's it. itu berdasarkan obrolan kami berdua ya. bukan hasil survey sekian ratus orang. jadi bisa saja tidak berlaku untuk orang lain. tujuan kami di sini adalah untuk menunjukkan kami tetap berusaha kok. tapi tuhan ada andil terbesar di balik ini semua. jika tuhan tidak mengizinkan, mau dipaksakan bagaimanapun tidak akan berjalan sesuai rencana.

mohon doanya saja ya teman-teman untuk kami, golongan para pencari jodoh. atau ingin membantu mencarikan juga boleh saja. syarat bare minimum-nya sudah tertera hahahahaha.

Sabtu, 01 Januari 2022

Babak Baru

2022.

akhirnya sampai juga di tahun ini. tahun yang belum genap sehari kujalani telah membuatku takut. trauma masa lalu yang belum terobati sepenuhnya masih membayang-bayang dalam ingatan. bagaimana bila aku gagal lagi tahun ini?

sungguh pembuka tahun yang buruk, dasar aku. pemikiran berlebihan yang seperti tidak ingat ada tuhan yang berkuasa atas segalanya. mengapa mempercayai tuhan tidak semudah itu? atau salahku yang tidak terlalu dekat dengan tuhan? mungkin juga.

di tahun ini, tidak seperti beberapa tahun terakhir, aku memiliki resolusi. resolusi untuk berani beranjak. berani berpindah. berani menghadapi rasa takutku. menantang rasa traumaku dengan "semua akan baik-baik saja".

keberanianku membuat resolusi ini dikarenakan resolusi jangka pendekku, yang buru-buru aku niatkan di bulan terakhir 2021, tercapai dalam satu bulan. aku pikir tidak ada salahnya untuk membuat resolusi 2022, supaya ada yang aku usahakan dan akan menyenangkan bila tercapai. 

salah satu caranya, di tahun ini aku harus lebih percaya dengan tuhan. lebih mendekati tuhan. lebih teratur dalam hidup. agar tuhan senang dan mengabulkan doaku. apalah dayaku bila hidup lebih teratur namun tuhan membenciku? sekali lagi semua kehendak tuhan, jalan terbaik adalah dengan tetap dekat dengannya dalam kondisi apapun. 

semoga ini tak hanya sekadar tulisan. semoga saja di tahun depan, di tanggal yang sama, aku dapat menuliskan pencapaianku dan lebih berani membuat resolusi lainnya. 

mari kita mulai babak baru dengan lebih berani. tidak ada yang salah untuk meninggalkan zona nyaman, selama hal tersebut lebih baik untuk kita semua. 2021 juga mengajarkan sebenarnya tidak ada yang tidak bisa dilakukan, hanya mau atau tidak mau, atau malah mesti terpaksa melakukan untuk mengetahui bahwa kita mampu melakukannya. dan mungkin saja dari yang dilakukan secara terpaksa itu malah menimbulkan peluang yang lebih  baik untuk diri sendiri.

jadi, jangan takut ya, diriku. ada tuhan yang selalu menemani dalam setiap langkahmu. mari mulai babak baru dengan berani, seperti yang kamu sadari ternyata kamu memang cukup berani, melebihi apa yang kamu ekpektasikan. 

Sabtu, 11 Desember 2021

Karma

Mungkin ini yang dinamakan karma. Pernah meninggalkan seseorang begitu saja karena tak pernah merasa menyayanginya sedikit pun dan merasa perbedaan antara aku dan dia semakin jauh. Namun sekarang berbalik, aku mencintai seseorang yang tak pernah mencintaiku, walau ia pernah memperlakukan seakan penuh kasih.

Mungkin ini yang dinamakan karma. Semakin menjauh semakin dicari. Namun, aku punya gengsi. Tak 'kan runtuh dinding pertahananku agar tidak berusaha menghubunginya lagi.

Semoga tak hanya sekadar ambisi. Agar aku tak kalah dengan karma ini.

Senin, 22 November 2021

Kembali

Kamu pulang jam berapa?

Tiba-tiba ada notifikasi masuk di smartphone-ku. Dari seseorang yang sudah kira-kira enam bulan tidak bertukar kabar apapun denganku. Hahh... Aku hanya bisa menghela napas berat.

Paling lambat jam 16.30.

Nanti aku jemput. 

... 
Tidak kubalas lagi pesannya. Sekarang otakku sibuk memikirkan perihal apa lagi yang ingin ia bicarakan. Kapan siklus ini akan berhenti? Tak ada seorang pun yang tahu jawabannya.

***

Jam dinding kantorku sudah menunjukkan pukul 16.00. Aku meregangkan badanku yang masih duduk di kursi semenjak tiga jam lalu dan memutuskan untuk mengemasi barangku saja. Sebenarnya sudah tidak bisa fokus lagi bekerja semenjak pesan darinya masuk. Setelah komputer kumatikan, dan isi tasku sudah lengkap, aku menuju mushola. Memang saatnya paling tepat untuk melamun dan curhat kepada Yang Maha Membolak-balikkan Hati.

Selepas shalat dan merapikan mukena, aku membuka smartphone-ku, dan ada pesan masuk di sana.

Aku sudah sampai. 

Pesannya masuk sepuluh menit yang lalu. Kuketikkan jempolku untuk membalasnya.

Sebentar lagi aku turun.

Aku kembali ke meja kerjaku, dan melihat sekeliling. Beberapa rekan kerjaku sudah pulang. Aku pun mengambil tas dan berpamitan kepada yang lain untuk pulang juga.

***

Ting!

Pintu lift terbuka, tanda sudah sampai di lantai dasar. Aku berjalan melintasi lobi, menyapa rekan sejawat yang juga ingin pulang. Sesampai di depan gerbang kantor, tidak jauh di sebelah kiri ia menunggu di atas motornya, dengan sweater biru dongkernya yang biasa, celana jeans biru yang tak sebelel biasanya, sepatu Vans hitam kesayangannya, dan sebatang rokok yang sudah mau habis di antara kedua jarinya.

Aku mendekatinya. Tanpa ada perubahan suasana hati. Biasa-biasa saja. Mungkin malah wajahku begitu datar, seperti ini hal yang sudah biasa terjadi. Ya, memang dulu biasa terjadi. Entah bulan apa terakhir ia menjemputku. Dan setelahnya sudah tak menjadi kebiasaan, karena ia tak lagi memberikan kabar.

"Sudah?" tanyanya padaku setelah aku berhenti di sebelahnya. Aku hanya mengangguk. Ia menyerahkan helm padaku untuk dipakai. "Bisa 'kan pakai helmnya? Soalnya cuma kamu yang pakai helm itu," kalimat yang sama setiap ia menjemputku setelah sekian lama tak muncul di hadapanku. Kalimat yang selalu membuatku ngedumel dalam hati, "Kenapa sih harus ditambah embel-embel cuma aku yang pakai? Biar apa?"

"Kita ga langsung pulang gapapa?"

"Terserah kamu." Jawaban andalan para wanita terlontar dari mulutku.

"Yaudah, kita mampir sebentar ya ke salah satu kafe. Atau kamu lapar? Mau sekalian makan malam?"

"Terserah." Terserah kedua. Terbayang ya seberapa aku sudah tidak memikirkan apa-apa. Yang kupikirkan hanya apalagi maksud dan tujuan lelaki ini menemuiku. 

Akhirnya ia menghidupkan motornya dan mulai berkendara berkeliling kota. Sial, aku jadi ingat waktu itu, di jalan yang sama, tanpa bilang-bilang ia juga mengajakku berkeliling sebelum pulang. Aku bilang padanya tumben sekali, karena biasanya ia paling malas jalan-jalan tidak jelas tanpa tujuan. Dan jawabannya hanya karena ingin membuat memori denganku di jalan yang sangat sering ia lewati. Jawaban yang dulu membuat perutku kegelian dan pipiku bersemu merah, sedangkan sekarang hanya menimbulkan tanda tanya besar mengapa ia mengatakan demikian bila tidak suka denganku.

***

Motor ia parkirkan di depan restoran yang pernah kami kunjungi. Restoran dengan variasi makanan dan minuman yang cukup banyak, sehingga tidak perlu bingung bila mencari makanan besar atau hanya ingin ngemil saja. Seperti biasa kami menuju ke area smoking room. Hanya dengannya aku selalu ada di area yang paling tidak aku sukai. Duduklah kami di ujung berandanya, yang jauh dari orang-orang sekitar. Kami langsung memesan minuman kesukaan kami di sana, ia pesan moccachino, dan aku hot chocolate mint. Pramusaji pergi meninggalkan meja kami setelah menerima pesanan. Seketika hening. Tidak ada yang berbicara satu pun di antara kami. 

"Kamu ga pesan makanan?"

Aku hanya menggeleng. Bagaimana bisa napsu makan bila kamu tiba-tiba muncul kembali setelah sekian lama.

"Apa kabar kamu?" akhirnya pertanyaan pamungkas keluar.

"Kenapa baru tanya sekarang?" serangan balik yang selalu aku lontarkan.

Ia hanya bisa nyengir pahit. Tampak sedikit rasa bersalah terbersit di mukanya. Ia mengeluarkan rokoknya, membakar ujungnya, dan mulai menyesapnya.

"Kamu pasti bingung aku ke mana selama ini dan kenapa tiba-tiba jemput kamu."

Aku hanya diam menunggu lanjutannya.

"Apakah yang kamu rasakan masih sama seperti dulu?"

"Kamu sudah tahu jawabannya."

"Maafkan aku. Tapi bolehkah kita kembali seperti dulu?"

"Untuk apa? Seperti dulu yang mana? Seperti saat kita bersama tapi hanya aku yang mengkhawatirkan kamu? Di mana hubungan ini sepertinya hanya aku yang menginginkannya? Dengan kamu tanpa merasakan hal yang sama? Buat apa?"

"Alisha, maafin aku. Aku tahu aku salah. Tapi aku ga bisa kehilangan kamu."

"Aku ga pernah ke mana-mana, Rom. Aku selalu ada setiap kamu butuhkan. Kamu yang selalu menghilang tanpa kejelasan."

Emosiku mulai naik. Untung saja pramusaji datang membawa pesanan kami. Kami pun diam dan menikmati seteguk minuman kami. Lanjut diam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Aku sudah mendapat pekerjaan tetap. Kegusaran kita selama ini sudah berkurang. Maka dari itu aku ingin kita kembali bersama." Romy menatapku dengan sangat serius. Aku sibuk menyugesti diriku agar tidak terhipnotis tatapannya.

"Lalu kenapa?"

"Kita bisa merancang masa depan lagi. Untuk kita."

"Percuma, kalau kamu masih tidak ada perasaan sedikit pun untukku."

"Aku mohon, aku akan berusaha. Aku hanya ingin bersamamu."

"Rom, kamu pikir yang kamu bilang itu masuk akal? Dari empat tahun lalu kamu selalu bilang untuk berusaha menyayangiku karena mengatakan aku yang terbaik buat kamu. Nyatanya, aku tidak pernah ada dalam prioritas kamu. Ingin tahu kabarku pun sepertinya juga tidak. Bagaimana aku mau percaya omonganmu lagi?"

"Tapi kamu bilang kamu masih sayang aku, Sha."

"Iya, aku masih sayang sama kamu. Banget. Bahkan aku masih ingin bertemu denganmu sekarang setelah terakhir kamu bilang kamu lagi pengen sendiri enam bulan lalu. Kenapa? Karena aku kangen, Rom. Sesederhana itu. Tapi aku sadar diri, aku ga bisa meneruskan hubungan ini sama kamu yang masih tidak ada rasa sedikit pun untukku."

Romy diam mendengar omonganku. Hanya membuatku geram, karena itu tandanya ia mengakuinya. Mengakui bahwa ia masih tidak bisa mencintaiku sebagaimana pasangan normal yang ingin hidup berdampingan dengan seseorang yang sangat ingin ia miliki.

"Lalu aku harus bagaimana agar kamu percaya aku tidak ingin main-main lagi dengan hubungan kita?"

"Jika kamu seserius itu, katakanlah semuanya kepada ayahku. Biar ia yang memutuskan apakah layak atau tidak hubungan ini dilanjutkan."

"Tapi Sha, aku mau hubungan kita menjadi baik dahulu sebelum kita memutuskan untuk menikah."

"Apakah ada jaminan jika kita kembali bersama kamu akan bisa mencintaiku sebagaimana mestinya? Empat tahun saja kita habiskan dan kamu berlaku seenaknya. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu aku sampaikan. Aku mau pulang sekarang."

Romy menatapku seolah-olah aku akan menghilang. Terlihat sedih raut wajahnya, tapi ia tak mengatakan apa-apa lagi, mematikan rokoknya dan membuangnya ke asbak. Kembali memakai sweater biru dongkernya yang tadi ia tanggalkan dan digantung di kursinya. Di balik sweaternya, ia menggunakan kemeja flanel kotak-kotak kecil yang juga berwarna biru dongker, hadiah ulang tahun dariku di tahun ini. Ia berdiri dari kursi dan mengajakku pulang.

Selama perjalanan pulang, kami hanya diam. Aku sibuk menata hati agar tidak goyah dengan segala permintaannya hari ini. Tidak bohong jika aku ingin kembali bersamanya. Namun tidak bohong pula bila aku tidak ingin kembali mencintai sendirian. Sebenarnya banyak hal yang Romy tunjukkan padaku, yang membuatku terkadang berpikir apakah ia benar-benar tidak menyayangiku?

Tapi kalimat itu selalu ia ulangi, yang membuatku terluka. Bukan sekadar pedih rasanya menjalani hubungan dengan hanya mencinta sendirian. Setiap ingin melakukan sesuatu selalu aku pikirkan, apakah yang kulakukan ini tidak mengganggunya, atau hanya membuat ia semakin tidak mencintaiku.

Hal yang teraneh memang hanya kalimat yang ia katakan: Kamu yang terbaik untukku. Menyatakan itu saja sebenarnya tidak mudah bagi seseorang yang tidak mencinta terhadap orang yang ingin dimiliki. Satu pertanyaan yang mengganjal hanyalah: mengapa ia tak kunjung mencintaiku?