Minggu, 19 Juli 2020

Lelah dengan Kehilangan

Tahun ini, sudah berapa orang-orang besar yang berpulang? Jangankan dari awal tahun, di minggu ini sudah 3 tokoh yang diberitakan kembali ke Rahmatullah, Nurhasanah (pengisi suara Doraemon di Indonesia), Omaswati, dan hari ini Eyang Sapardi. 

Apa sih yang dirasakan bila mendengar berita kepergian seseorang yang tak akan kembali keberadaannya? Sedih, pasti. Dan hampa. Itu versi saya. Rasanya hati ini mendadak kosong. Seperti tidak tahu harus berbuat apa.

Akan tetapi, jika terlalu sering merasakan kehilangan, entah mengapa saya merasa lelah. Lelah kehilangan. Hati ini rasanya belum selesai berduka sudah harus ditambah dengan duka lainnya. Tragis. 

Lelah ini membuat saya berpikir, mengapa kehilangan ini harus terjadi? Mengapa harus beruntun berita ini mengalir? Apa yang salah dengan negara ini sampai orang-orang hebat silih berganti dijemput Yang Maha Kuasa?

Iya, apa yang salah. Apa tidak terpikir ini bagai teguran? Seperti ditegur Sang Pencipta, berapa orang lagi yang harus dijemput hingga akhirnya kita sadar. Sadar bahwa ada yang salah dengan hidup kita. Sadar bahwa kematian itu tidak memandang umur. Dengan segala yang sedang terjadi di hadapan kita, kita masih mau menantang kematian? 

Memang hidup dan mati di tangan Tuhan. Tapi tidakkah kita ingin mati dengan kondisi mulia? Sekarang, lihat apa yang terjadi. Korban covid-19 sudah melampaui Cina. Dan di tempat yang sama orang-orang masih banyak yang meragukan keberadaan virus ini. Haruskah tetap masa bodoh hingga penyakit ini terlebih dahulu menyerang kita atau kerabat terdekat kita? 

Jangan bermain-main dengan kesehatan, penyesalan akan datang tak main-main. Sudah, rehat sejenak dari berkumpul di tempat umum. Jika rumah sakit penuh di mana-mana, tenaga medis kewalahan hingga turut berguguran, ke mana lagi kalian akan pergi jika ingin mengobati diri? 

Mari jaga diri. Agar lelah akan kehilangan ini juga tak muncul. Sungguh benar-benar lelah merasakan ini. Seperti separuh jiwa pun hilang entah ke mana. Seperti tidak ada istirahat, padahal akibat dari menerima berita duka. Lelah. Sangat lelah. Sebagai manusia yang hanya bisa selalu mengingatkan tapi tak mampu mengubah.

Mari berubah. Ubah pola hidup, ubah pola pikir. Tak perlu untuk saya atau siapapun, tapi untuk dirimu sendiri. Agar saya pun tak perlu merasakan lelah. Iya, saya tak mau kehilangan kalian. 

Minggu, 05 Juli 2020

Dear God

dear God, 
why it's so hard to letting go? 
even he never talks to me again, 
never thinks of me, 
never loves me. 
is it a Karma?
because i've ever did the same
to someone that always think of me, 
always love me, isn't it? 
why? 
it's too cruel. 
i want to be in love,
and to be loved. 
when the times come for me?
when my happiness come? 
until when i must waiting for it? 
will i find my happiness before i die? 
or,
will i die first? 
i don't know what You will choose for me. 
but really, 
i want to live happily ever after, 
and will meet my whole family in Your heaven, 
please. 

Selasa, 30 Juni 2020

Konflik

Aku punya bahasan yang menarik kali ini. Tentang kita, tentu saja. Aku yakin kamu muak dengan kata-kataku yang menyatakan aku lelah mengkhawatirkan kamu yang cenderung cuek dan tanpa kabar. Padahal ya kita tak ada apa-apa, tapi mengapa bisa aku berulang kali berbicara demikian?

Lalu, aku menonton drama Korea. Salah satu episodenya ada adegan di mana pacar dari pemeran utamanya memutuskan si lelaki dengan kalimat-kalimat yang sama persis dengan yang pernah aku ucapkan ke kamu. Aneh betul, ya? Kok alasan mereka putus bisa sama dengan konflik kita.

Ada lagi kasus lainnya. Ketika membahas tentang hubungan dengan pasangannya, temanku juga mengamini ceritaku seperti yang aku sebutkan sebelumnya. Ia lelah mengomeli pasangannya yang seperti tidak mendengarkan omongan temanku. Padahal ia bersikap demikian karena khawatir dengan masalah kesehatan dan keuangan pasangannya, tetapi pasangannya malah tidak acuh dan membuat keputusan sendiri.

Setelah dua contoh kasus di atas, aku jadi berpikir bahwa permasalahan suatu hubungan kurang lebih sama, walau aku juga tidak tahu hubungan kita sebenarnya sedalam apa. Namun lamanya berhubungan juga tidak menjadi tolak ukur komunikasi sebuah hubungan akan berjalan lancar. Di drama Korea itu mereka telah saling mengenal dalam waktu lama, semenjak mereka kecil (seperti kita), dan baru berpacaran ketika dewasa tapi tetap saja salah satunya cuek dan tidak memikirkan perasaan pasangannya. Temanku dan pasangannya telah berpacaran mungkin sewindu, tapi masih juga ego masing-masing menjadi masalah.

Apa hubungannya dengan kita? Mungkin kira-kira itu yang akan kamu tanyakan. Ini hanya pendapatku ya, kalau kamu tidak setuju silakan beri sanggahan. Menurutku jika kamu masih ingin sebebas-bebasnya tanpa perlu peduliku, tolong jangan pernah menganggap aku yang terbaik karena membuatku menjadi memikirkanmu lebih dari sekadar teman. Namun, jika kamu merasa memang aku yang terbaik buat kamu, tolong saling mendengarkan, saling peduli. Agar tidak lagi lelah, karena saling merasakan. Jika melulu menuntut dari ku dan tidak berusaha melakukan apa pun, lalu aku dapat apa? 

Komunikasi. Lagi-lagi aku ulang kata ini. Komunikasi yang baik itu perlu dua arah, agar dapat saling mengoreksi bila terjadi kesalahan.

Kalau masih belum bisa melakukannya, sudah ya jangan bermimpi membawa namaku lagi. Aku juga punya mimpi yang ingin aku penuhi. Sekarang aku tanya, pernahkah kamu berpikir bagaimana bila ada aku di kehidupanmu selamanya? Kemudian kamu berpikir bagaimana bila tidak ada aku di hidupmu selamanya? Apakah ada perbedaan? Jika tidak ada, mari sudahi saja.

Jumat, 26 Juni 2020

Mimpi

sekarang saatnya tidur
pasrah
akan atau tidak bertemu kamu
dalam mimpi
semestinya aku senang
berjumpa denganmu dalam mimpi
berbagi suka cita
tanpa berpikir ini khayalan saja
namun nyatanya menyiksa
ketika bangun dan sadar
kita tidak baik-baik saja
tidak seindah dalam mimpi
bahkan tidak ada indahnya
hanya lelah dengan khawatir tak berujung
yang dianggap saja tidak
haruskah aku tidur
dan tak bangun lagi
agar selalu bermimpi
bahagia bersamamu? 
akankah kamu bersedih
dengan ketiadaanku kelak
di dunia ini? 

Menunggu atau Menemukan

acap kali lupa
bahwa tiada yang terjalin
di antara dua hati
yang ingin saling memiliki
bukan karena tiada rasa
namun hanya mengalir sepihak
dan membuatnya lelah
hingga menguap ke angkasa
terombang-ambing melayang
dengan debu kosmik
tak tentu arah
mencoba kembali memenuhi hati
tapi radar tak menemukan gelombang
sinyal untuk mempersatukan dua hati
melayang
melayang
melayang
entah sampai kapan
menunggu sinyal hatinya terpancar
atau mencoba menemukan gelombang lain
yang terlebih dahulu memberikan tanda

Sabtu, 20 Juni 2020

Rumah

ketika rumah adalah tempat berpulang
rasanya tak lagi demikian
karena yang menanti juga telah tiada, 
terpilih untuk pulang lebih dulu ke haribaan-Nya
rasa yang berbeda ini
membuatku merasa tak lagi dibutuhkan
tidak ada lagi yang menuntut
atau dituntut untuk mendapatkan
kasih sayang
mungkin rasa ini juga
yang membuatku cemas
hingga tergesa
ingin mendapatkan kepastian
agar dapat saling menyayangi
dan yang terpenting
menemukan kembali rumah untuk berpulang

Jumat, 12 Juni 2020

Ulangi dari Kalimat Awal

tugasku mulai waktu itu
meyakini hati
bahwa aku tidak apa-apa
tiada beda dengan sebelumnya
seperti teman pada umumnya
tiada kehilangan
sebab memang begitu adanya
tidak perlu mencari
biarlah dicari
jika ia telah merasa
ada yang berbeda
dan kehilangan
pasti ia akan mencari
pasti!
tapi pertanyaannya,
apakah aku yang dicari?
belum tentu
maka,
ulangi dari kalimat awal