Selasa, 02 Juni 2020

Bukan yang Pertama

jujur saja
ini bukan luka hati yang pertama
namun mengapa masih sulit
mencari penawarnya?

Jumat, 15 Mei 2020

Deep Thought

Kondisi di rumah saja tanpa pekerjaan sambil berpuasa sungguh sangat mempermainkan mental. Pusing berkelanjutan juga terjadi hanya karena hal-hal remeh. Emosi juga jauh meningkat. Hal terparah adalah mempengaruhi pola tidur.

Jujur, pola tidur sekarang terparah sepanjang hidup selama 27 tahun. Beberapa kali sempat tidak tidur semalaman. Benar-benar jadi concern karena tidak mau kesehatan makin memburuk di tengah pandemi yang tak kunjung usai. Sampailah di puncak kegelisahan dan akhirnya memilih untuk pasrah dan berdoa, Allah pasti memiliki jawabannya.

Alhamdulillah, malamnya langsung merasakan tidur berkualitas. Walau hanya 3 jam tapi bangun tidur badan terasa fit, tidak merasa demam atau pusing seperti hari-hari sebelumnya. Ketika bangun, langsung melihat jam di handphone dan masih ada waktu untuk melakukan shalat malam terlebih dahulu. Selesai shalat dan berdoa, saya terdiam. Sepertinya ini saat yang tepat. Akhirnya saya kembali berdiri, berniat untuk shalat istikharah. Untuk apa? Meminta petunjuk dari salah satu kegelisahan terbesar abad ini hehehehe.

Surprisingly, setelah malam itu, malam di mana saya memilih untuk bercerita dan bersyukur pada Allah, saya merasa hari-hari saya menjadi lebih ringan. Sesak dan rasa insecure di dada sudah tak lagi terasa saat ini. Inikah ketenangan hati yang diberikan Allah pada saya?

Allah Maha Kuasa. Allah Maha Pengasih. Allah Maha Penyayang. Memang paling benar mengutarakan segalanya kepada Sang Pencipta. Mungkin belum langsung diberikan jawaban atas segala pinta, tapi ketenangan hati ini sangat sangat sangat membuat hidup lebih mudah dijalani. Dan jadi lebih yakin Allah selalu ada untuk kita.

Namun, di satu sisi merasa aneh. Duh, kecintaan pada duniawinya mulai keluar. Dengan hati setenang ini apakah maksudnya diminta untuk lebih sabar dan tak memikirkan seseorang yang selama ini membuat gelisah? Apakah bukan ia jawaban terbaiknya? Hati pun belum merasa sedih, atau lebih baik jangan. Tapi tetap saja jadi terpikir dan menerka apakah ini jawabannya. Semoga diberikan petunjuk yang lebih jelas, dan diselesaikan dengan akhir yg bahagia, aamiin!


Minggu, 03 Mei 2020

Karena yang Pergi Dapat Kembali

"Ra..."

"Eh, hai Ren. Apa kabar?" hampir copot jantungku mendengar suara yang benar-benar aku rindukan. Rendy. Iya, ada Rendy di depan mataku. Dan ia yang lebih dulu memanggil namaku.

"Good. Lo?"

"Baik. Sama siapa ke sini?"

"Itu..." jari Rendy menunjuk ke arah sekerumun ibu-ibu yang sedang sibuk memilih buah jeruk untuk ditimbang. Ada seorang yang terlihat seumuran denganku. Perutnya terlihat tengah mengandung. Oh... kataku dalam hati. Belum pernah aku bertemu istrinya. Sepertinya Rendy juga tidak ada niat untuk mengenalkan aku padanya.

"Lo sendiri?" Rendy bertanya kembali padaku.

"Gitu deh," jawabku singkat diselingi tawa kecil, basa-basi. Sudah tak mampu lagi rasanya berbasa-basi dengan Rendy. Ingin segera menyudahi obrolan tak disengaja ini.

"Eh, gue duluan ya, Ra. Sudah dipanggil tuh sama nyonya. I'm so glad to meet you again, Ra," Rendy berlalu setelah melambaikan tangannya cepat. But i'm not, Ren. Luka lama terasa lagi perihnya. Aku kira lima tahun sudah cukup menuntaskan rasa ini. Nyatanya... nihil.

Tanpa ku sadari, ada yang memperhatikan kami berdua tadi. Setelah Rendy pergi, barulah ia menghampiriku. "Sudah?" tanyanya padaku.

"Iya, sudah. Yuk pulang," rasanya tidak ingin berlama-lama lagi di sana. Nanti sajalah jika masih ada belanjaan yang kurang, cari di pasar dekat rumah saja.

Tanpa banyak tanya, kami berdua menuju kasir, lalu menuju parkiran. Setelah menata barang belanjaan di bagasi, masuklah kami ke dalam mobil, bersiap untuk pulang. Tidak satu pun dari kami bersuara dari terakhir obrolan sebelum pulang di supermarket tadi.

"Siapa Ra?" Alex akhirnya memecah keheningan. Sambil dihidupkannya radio mobil agar suasana tak begitu canggung di antara kami.

"Mantan?" tanya Alex lagi.

"Iya, mantan."

"Mantan kamu yang mana? Sepertinya ada yang berbeda dengan yang ini," nada suara Alex yang datar selalu bisa membuat obrolan sensitif (bagiku) ini terdengar biasa saja. Alex sudah hapal dengan sikapku, jika bertemu mantan kekasih aku tidak akan sediam ini. Pasti biasa saja, seperti bertemu teman biasa.

"Mantan sahabat."

"Wanna tell me?"

"Long story short, dia sahabat aku pas kuliah. Sudah seperti sepaket kami berdua. Berujung aku terlanjur sayang sama dia. Tapi dia tidak pernah menganggapku lebih. Sampai akhirnya dia jadian dengan salah satu temanku. Entah kenapa saat itu rasanya hatiku tidak puas dengan kenyataan dan berusaha untuk mengatakan kepadanya tanpa maksud apa pun. Hanya menyatakan, agar hatiku lega. Tapi akhirnya malah dia yang menyudahi semuanya. Dia tak boleh lagi pergi bersamaku dalam konteks apa pun oleh pacarnya."

Masih teringat jelas kalimat yang Rendy kirimkan melalui chat pribadinya: terima kasih untuk segalanya. Kalimat umum yang diucapkan seseorang untuk putus dengan pacarnya. Sepotong kalimat itu saja membuat pikiranku ke mana-mana. Segalanya, katanya. Yang berarti ia juga merasakan hal yang sama. Jika tidak, buat apa ia sampaikan demikian, di samping memang disuruh pacarnya. Tapi hal yang paling menyebalkan bukan itu.

Setelah banyak malam ku lewati dengan tangis karena sudah tiada hari lagi bisa ku habiskan dengannya, dan sengaja ke kampus tidak berselisihan dengan Rendy, hari itu mau tidak mau aku tidak bisa menghindari Rendy. Posisinya makanan yang aku pesan di kantin baru datang ke meja yang bisa diduduki delapan orang, di mana di meja itu sudah terisi enam orang, aku dan teman-temanku yang lain, yang baru saja selesai kelas bersama. Sayangnya tempat yang kosong hanya ada di sebelahku, di mana aku duduk paling ujung, dan satu lagi di ujung satunya dari bangku depanku. Kalau orang biasa pasti akan memilih mengisi bagian ujung yang kosong karena lebih mudah untuk mendudukinya. Tapi ini Rendy. Di mana ia memilih tempat di sebelahku untuk diduduki.

Tanpa merasa aneh, ia sapa semua teman yang duduk di meja itu sambil bercanda bersama. Kecuali aku. Tapi apa yang ia lakukan? Duduknya sengaja menempel denganku. Hal yang biasa kami lakukan dulu, atau tepatnya dia, jika aku sedang marah dengannya. Dia akan menempeliku tanpa kata. Sampai aku terbiasa dengan kehadirannya dan akhirnya aku lupa jika sedang marah dengannya. Berujung kami akan kembali baik-baik saja dan melupakan masalah yang membuatku marah padanya.

Gelagatnya sungguh menyiksaku. Beberapa kali melirikku, berharap pertahananku runtuh agar bisa kembali mengobrol bersama. Sebisa mungkin aku bertahan. Ikut asyik mengobrol dengan yang lain tapi tetap tidak mengacuhkannya adalah hal tersulit untuk dilakukan. Namun aku merasa harus bisa melewati ini agar terbiasa untuk jauh darinya. Hasilnya, aku berhasil tidak mengobrol dengannya dan bergegas meninggalkan meja itu duluan ketika makananku sudah habis. 

Sikap Rendy tidak berhenti di situ. Dia terus mengulang hal yang sama jika ada kesempatan. Mengapa ia harus melakukan ini, pikirku.

Akhirnya sampai pada hari kelulusan. Wisuda dimulai dengan arak-arakan, ditutup dengan acara bersama di balairung. Aku dan teman-temanku saling memberikan ucapan selamat satu sama lain, tapi tidak ku hiraukan Rendy dan pacarnya. Selesai juga drama ini, kataku dalam hati. Namun ternyata di acara lain setelah kelulusanku, nikahan atau buka bersama, ia masih berusaha melakukan hal yang sama. Untuk apa? Tidakkah cukup ia sudah mematahkan hatiku? Mengapa berusaha untuk menjalin hubungan lagi denganku? Semua usahanya tidak ada yang ku sambut. Karena aku tahu rasa sayangku untuknya seperti apa. Aku tidak mau memberi harapan pada egoku sendiri, sebab tidak mungkin kita akan menyatu. Buktinya setelah putus dengan temanku, ia sudah menjalin hubungan dengan teman kantornya. Tiada itikad untuk berbaikan denganku di kala "kekosongannya".

"Jadi tadi kali pertama kalian mengobrol kembali?" tanya Alex menanggapi cerita singkatku.

"Lex, maaf..." entah mengapa kata itu yang keluar dari mulutku.

"Untuk apa? Karena kamu masih tidak bisa menyembunyikan rasa sayangmu? Lalu memangnya kamu sekarang bisa apa?" Alex berbicara tanpa menatapku. Nadanya tetap tenang sambil berkemudi.

Aku hanya diam. Menunduk. Menatapi tanganku. Merasa bersalah karena rasa ini masih ada.

"Aku tahu kamu, Ra. Dia sudah beristri. Bahkan sebentar lagi menjadi seorang ayah. Kamu bukan orang yang akan mengambil masalah. Kamu tahu diri dengan posisimu. Sekarang tugasnya di aku."

Tugas? Tugas apa untuk Alex? Aku memandangnya penuh tanda tanya.

Alex menengokkan kepalanya ke arahku sebentar, kemudian tersenyum, "Iya tugasku untuk membuat kamu lebih menyayangiku agar sayangmu padanya tertimbun dengan sayangmu padaku."

Tersadar dengan ucapan Alex, spontan aku tertawa. "Makasih ya, Lex. Makasih banget kamu selalu bisa ngertiin aku. Bahkan ga marah di saat seperti ini. Aku bakal memenuhi hati aku dengan kamu," ku balas gombalan Alex dengan hati yang lega.

Tidak terasa akhirnya perjalanan kami sampai ke rumahku. Obrolan berat di awal disulap Alex menjadi obrolan lain yang bisa membuatku lebih ceria, dan melupakan patah hatiku yang mestinya sudah kedaluwarsa itu.

Aku dan Alex turun dari mobil. Kemudian memindahkan barang belanjaan dari bagasi ke dapur mamaku. Alex ku suruh melepas lelah di ruang tamu sembari menunggu aku selesai membuatkannya es teh manis. Ku letakkan handphone yang ku ambil dari dashboard mobil Alex di atas pantri dapurku. Tak lama ada getaran dari handphone-ku dan muncul satu notifikasi:
Rendy Laksana started following you.

Jumat, 24 April 2020

Seperti Hidup Kembali

Kali kedua merasakan ini, setelah terakhir setahun yang lalu. Seperti juga tahun lalu, lagi-lagi harus menghadapi perpisahan. Awalnya aku berpikir ini hal yang mudah. Tinggal katakan: terima kasih, maaf, dan sampai jumpa lagi. Iya, aku percaya pasti akan ada pertemuan berikutnya, tidak akan ada perpisahan sepenuhnya, kecuali jika Yang Maha Kuasa telah menjemput terlebih dahulu. Namun, kenyataannya tak semudah itu.

Kemarin pagi sudah dibuka dengan tangisan. Perpisahan (kedua kalinya) dengan seorang teman yang lebih dahulu pamit dari tempat kerja. Baru setahun saling kenal tapi sudah terasa sangat dekat. Karena sebelum bekerja pun sudah menghabiskan nyaris satu bulan penuh bersama untuk belajar. Melihat matanya yang berkaca-kaca sungguh menular. Dalam peluk, kami pun menangis. Hanya maaf dan terima kasih yang menguar ke udara.

Selanjutnya aku yang berganti berpamitan dengan para rekan kerja. Belum saatnya untuk selesai, tapi harus pindah shift. Jadi mau tak mau menjadi kebersamaan terakhir di shift tersebut. Sudah menguatkan diri untuk pamit tanpa tangis. Bisa! Pasti bisa! Pamit pertama dengan salah satu yg tertua, ya berhasil. Walau hampir tumpah. Untung ada pelanggan, jadi aku dapat melipir pergi. Pamitan kedua dengan salah satu rekan yang lebih muda. Yang menurutku tingkat kedekatannya sama dengan yang lain pada umumnya. Tapi apa? Ia menangis sesenggukan... Pecah sudah pertahananku. Ditambah ia berkata, "Kenapa cepet banget, kita kan baru deket. Aku sayang banget loh sama kamu, Kak."

Yah, mengetiknya saja sudah membuat mataku berair sekali. Menyadari hal ini, ada orang yang menyayangiku tanpa diduga, membuatku terenyuh. Sangat. Siapa sangka sikapku mempengaruhinya. Padahal menurutku tidak ada yang ku perlakukan spesial. Karena merasa diri ini juga masih mencari yang lain, di luar lingkungan kerja, ketika sedang merasa gusar dan gelisah.

Mungkin faktor umur yang membuatku begini. Mudah tersentuh dengan kebaikan orang lain. Mudah terenyuh bila seseorang mengatakan aku cukup berarti untuk mereka. Karena menurutku aku tidak pantas mendapatkannya.

Lagi-lagi merasa, bahkan bukan lagi-lagi, mungkin lebih tepatnya masih merasa bahwa aku salah satu makhluk tidak berguna di bumi ini. Tidak merasa percaya diri dengan diri sendiri. Namun ternyata ada saja yang menyampaikan bahwa aku lebih dari apa yang aku pikirkan. Kalimat-kalimat seperti itulah yang membuatku merasa hidup kembali. Menjadi manusia yang berguna.

Selalu sedih menghadapi perpisahan, tapi itulah yang menguatkan, karena selalu memberikan pelajaran. Mungkin masih sulit bagiku untuk menerima bahwa diri ini lebih berharga daripada apa yang dipikirkan, tapi biarlah menjadi pendar yang lama-lama akan semakin besar terangnya menerangi hatiku, membuatku semakin percaya akan kelebihan yang aku miliki. 

Terima kasih teman-teman yang telah membantuku merasakan hidup kembali. Aku pun masih harus menghadapi hari terakhir di tempat kerja dalam beberapa hari lagi. Akankah ku lalui dengan langkah ringan, atau kembali berat sibuk memikirkan apa yang ditinggalkan...

Kamis, 16 April 2020

Alasan Jatuh Cinta

Pernahkah kalian menyukai seseorang karena pemikirannya? Sungguh aku bingung, sebab aku pernah mengalaminya. Atau bisa dibilang sedang mengalaminya. Biarkan aku bercerita, silakan kalian tetap tinggal atau pergi begitu saja tak usah tinggalkan jejak.

Selama ini, lebih tepatnya sekitar dua tahun terakhir, aku merasa menjadi orang yang selalu memikirkan segalanya menjadi positif. Bukannya aku sombong karena memuji diri sendiri (jika ini juga dapat disebut pujian), melainkan karena sesungguhnya aku terlalu sensitif dengan omongan orang. Maka aku membutuhkan afirmasi positif untuk mengenyahkan segala kenegatifan isi kepalaku.

Sampai pada akhirnya ada kala aku merasa tak sanggup lagi dengan pikiran negatifku, hingga aku butuh pelarian. Aku butuh wadah untuk menumpahkan ini semua. Lalu, ku pilihlah dia.

Alasan aku memilihnya hanya satu, dia pernah menjadi penawar racun di masa kelamku. Dia yang menemaniku keluar dari ruang gelap yang tak mampu diraih siapapun. Hingga akhirnya sekarang aku bisa berada di sini, di antara para manusia yang dahulu tak ingin aku temui satupun.

Awalnya sempat ragu, karena beberapa sebab yang membuatku enggan menghubunginya. Namun, entah hati ini begitu kuat memanggil namanya. Seperti memaksa otak untuk memerintahkan kedua jempol mengetikkan sapaan di kolom chat-nya. Dan akhirnya terkirimlah dua kalimat, "Lagi sibuk? Mau ngobrol."

Tidak seperti biasanya, ia langsung membalas. Wahai semesta, ingin rasanya aku mengumpat. Mengapa di setiap momen ini ia siap sedia. Mungkin harapan juga telah terselip dalam hati, hingga rasanya aku kesal setengah mati. Ya sudahlah, toh bagus ia jawab. Sebab aku pun butuh "wadah".

Setelah menanyakan aku di mana, ia langsung meneleponku. Dasar, tidak ada basa-basinya. Selalu membuat si introvert yang cinta menulis ini harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengungkapkan segalanya dengan lisan. Untung saja kegelisahanku ini terlampau besar, hingga menjadi tenaga yang bisa ku keluarkan membabi buta. Akhirnya tumpahlah semua kegusaranku.

Sungguhlah, aku mulai kesal dengan semesta. Di saat aku sudah melontarkan segalanya, ternyata ia juga di posisi yang sama denganku. Sedang mengalami kegelisahan yang sama. Iya, sedang. Bukan past tense atau future tense. Dialami saat ini juga. YA TUHAN! MENGAPA SEMESTA BERSEKONGKOL DI HIDUPKU DAN HIDUPNYA...

Kembali lagi ke pernyataanku di awal, bahwa aku dapat memikirkan segalanya menjadi positif. Tapi tidak saat itu. Dialah yang menjadi aku. Mengolah segala keluhanku menjadi terlihat lebih indah. Sisi kelam ini juga ada indahnya loh. Kira-kira seperti itu. Mungkin aku tidak dapat menjabarkannya secara detail di sini, hanya penggambarannya kira-kira seperti tiba-tiba aku melihat cahaya masuk ke tempat aku terkurung yang adalah dia sedang berusaha membuat lubang untuk mengeluarkanku dari sana. Diajaknya aku melihat dunia dari perspektif lainnya agar aku dapat mengembangkan masalahku menjadi hal yang patut aku syukuri.

Aku hanya bisa terdiam. Tidak pernah rasanya aku memikirkan kalimat-kalimat yang ia katakan akan keluar langsung dari bibirnya. Apa yang dilakukan waktu hingga membuat ia dapat berpikir demikian? Mengapa sekejap aku dibuat takjub dengan pemikirannya? Sejak kapan ia menjadi dewasa seperti itu?

Hmm... Gawat. Jangan bilang aku mulai jatuh... Hati. Dengan pemikirannya yang sudah cukup dewasa. Membuatku berpikir ia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Apakah ini sudah cukup menjadi alasanku untuk jatuh cinta dengannya?

Kalau kalian, kapan kalian merasa "ini" adalah alasan kalian jatuh cinta? Dan bagaimana prosesnya? Atau jika kalian tak berkenan untuk berbagi beri tahu saja tanggapanmu tentang alasanku ini, apakah aku terlampau bodoh dengan begitu mudahnya terpesona hanya dengan pemikirannya saja atau ikuti saja kata hatiku agar dapat tertambat di hatinya?

Jumat, 10 April 2020

Akibat Pandemi

Yang terbayang saat ini hanya satu, jalan-jalan bersamamu menuju taman kota di saat matahari bersinar dengan cerahnya ditemani dengan sepoinya angin mengusik pepohonan. Kita menggelar tikar lipat yang dibawa, menaruh semua bawaan di atasnya. Sekarang waktu bebas! Aku menghempaskan badanku, duduk di atas tikar, mencari posisi enak, membuka camilan, menghidupkan musik, dan mulai membaca novel romansa. Sedangkan kau menuju skatepark yang tersedia dengan skateboard sudah kau apit di lenganmu. Kita menikmati waktu senggang kita dengan hobi masing-masing. Waktu berjalan, kau mulai lelah. Kembali menghampiriku yang sudah memegang botol minuman dingin untukmu, yang baru saja ku beli dari ibu-ibu penjual minuman keliling. Kau duduk di sebelahku sambil menghabiskan setengah botol air yang tadi ku berikan. Ku tawarkan untuk makan, dan kau mengiyakan. Ku buka kotak bekal yang telah ku persiapkan tadi pagi, beberapa tangkup roti lapis berbentuk segitiga yang berisi selada, telur dadar, keju, juga saos sambal dan tomat. Enak, katamu. Dengan lahapnya kau habiskan tiga tangkup di saat aku hanya berhasil menghabiskan satu tangkup. Perut kenyang. Masih belum ingin pulang. Akhirnya kita menghabiskan waktu dengan bercengkerama. Sudah lama sekali tidak ada waktu untuk saling bertukar cerita. Akibat pandemi ini. Bahkan ini semua hanya bayanganku saja.

Apakah semua hanya akan jadi bayang-bayang semu akibat pandemi yang tak kunjung usai?

Senin, 16 Maret 2020

Deni-al

masing-masing sudah tahu
namun saling tidak mau tahu
tidak ada apa-apa
walau sebenarnya sudah ada apa-apa